Siti Cek Cara Kelola Kebun Binatang Bandung

14/5/2016 09:20
Siti Cek Cara Kelola Kebun Binatang Bandung
(ANTARA)

MENTERI Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar menyayangkan matinya gajah sumatra di Kebun Binatang Bandung, Rabu (11/5) lalu.

Siti menilai, jika kebun binatang dikelola dengan baik, mestinya hal itu tidak terjadi.

"Saya akan cek dulu itu kebun binatangnya dikelola siapa. Persoalan hewan lahir atau mati sebenarnya hal yang biasa, tapi yang jadi problem, ini kejadiannya di kebun binatang, yang seharusnya dikelola dengan baik. Oleh karena itu, saya akan cek dulu ke lapangan," ujar Siti, Jumat (13/5).

Gajah sumatra (Elephas maximus sumatrensis) bernama Yani yang masih berusia 34 tahun, menurut Dinas Peternakan Jawa Barat, mati antara lain akibat kekurangan nutrisi, di samping buruknya pengelolaan lingkungan di sekitar.

Hal itu diketahui setelah dilakukan pemeriksaan ulang, juga autopsi oleh tim dokter dari Dinas Peternakan Jawa Barat, Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia, serta petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Barat.

"Intinya, manajerial yang kurang baik, terutama terkait dengan pemberian nutrisi yang kurang baik," ujar Pranyata, salah seorang tim dokter dari Dinas Peternakan Jawa Barat, Jumat (13/5).

Kepala BKSDA Jawa Barat, Sylvana Ratina, mengatakan hasil autopsi akan dijadikan sebagai bahan masukan, sekaligus laporan kepada pemerintah pusat terkait dengan kasus kematian gajah Yani itu.

"Autopsi ini penting sekali. Kalau sampai penyebab kematian gajah ialah sesuatu yang bisa menular ke satwa lain, saya berharap hal itu (penularan) bisa diantisipasi," jelasnya.

Di lain hal, kabar gembira datang dari Suaka Rhino Sumatra (SRS) Taman Nasional Way Kambas (TNWK) Lampung.

Populasi badak sumatra (Dicerorhinus sumatrensis) kembali bertambah setelah seekor badak sumatra berusia 15 tahun bernama Ratu melahirkan seekor anak.

Bayi badak yang lahir dari rahim Ratu merupakan benih perkawinan Ratu dengan Andalas, badak jantan berumur 15 tahun.

Seluruh proses kelahiran bayi badak itu diawasi perawat satwa dan dokter hewan SRS yang terdiri atas Drh Zulfi Arsan dan Drh Ni Made Ferawaty, tim dokter dari Kebun Binatang Taronga, Australia, dan Kebun Binatang White Oak, Amerika Serikat, serta perawat satwa senior dari Kebun Binatang Cincinnati, Amerika Serikat.

Selain bayi Ratu, Humas TNWK Sukatmoko mengatakan seekor badak betina lain di SRS bernama Rosa bakal melahirkan anak setelah dapat dikawinkan dengan Andalas. (EM/BG/NV/H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya