DENGAN wajah berbinar, Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin dan tokoh Nahdlatul Ulama (NU) Makruf Amin mensyukuri awal Ramadan 1436 H jatuh bersamaan pada Kamis (18/6).
Bahkan, Din mengungkapkan awal Ramadan antara Muhammadiyah dan NU tersebut akan berba-rengan hingga 2023. "Insya Allah. Kami menetapkan 1 Ramadan 1436 H atau awal puasa jatuh pada Kamis (18/6), sedangkan Idul Fitri jatuh Jumat (17/7)," kata Din seusai mengikuti sidang isbat (penetapan) awal Ramadan di Kemenag, kemarin.
Sebelumnya, setelah bertemu Presiden Joko Widodo di Istana, Din mengatakan penetapan 1 Ramadan dan 1 Syawal itu 100 tahun yang akan datang bisa diprediksi karena menggunakan ilmu falak yang berbasis astronomi, fisika, dan matematika. "Kami yakin hasilnya dapat disebut pasti.
"Selama ini penetapan awal Ramadan, lanjut Din, berdasarkan pengamatan bulan sabit baru atau hilal. Meskipun demikian, Muhammadiyah menghormati perbedaan cara melihat hilal tersebut.
"Itu pendekatan ilmiah Muhammadiyah, tetapi kami menghargai (pihak) yang berkeyakinan harus melihat (hilal). Kalau tidak melihat harus tambah sehari, ini belum ketemu. Menteri Agama punya komitmen mendekatkan," ujar Din.
Adapun tokoh NU sekaligus Wakil Ketua MUI Pusat Makruf Amin menilai upaya penyatuan awal Ramadan dengan dua sistem, yakni rukyat (pengamatan) dan hisab (perhitungan), mesti dilakukan secara sukarela.
"Masih ada waktu lima tahun untuk menyatukan dua sistem tersebut dengan kesukarelaan dan tidak saling memusuhi," ungkap Makruf.
Makruf mengaku penetapan kriteria hilal antara Muhammadiyah dan NU harus diapresiasi dan disyukuri. "Kemenag berhasil menyerasikan upaya menyatukan penetapan awal Ramadan.
"Peneliti di Observatorium Bosscha, Lembang, Bandung, kemarin tidak dapat mengamati hilal yang terbentuk setelah konjungsi (bulan berada di antara bumi dan matahari) sebagai penentu awal Ramadan. Untuk melihat hasil pengamatan hilal, masyarakat dapat mengakses foto hasil pengamatan di laman http://bosscha.itb.ac.id/hilal.