Budi Pekerti Kunci Restorasi Pendidikan

Ardi Teristi
02/5/2016 08:41
Budi Pekerti Kunci Restorasi Pendidikan
(Dok.MI)

DALAM kongres Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan di Grha Sabha Pramana, Universitas Gadjah Mada, Sabtu (30/4), Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan, mengungkapkan penumbuhan budi pekerti ialah hal yang harus diprioritaskan untuk restorasi dunia pendidikan.

Salah satu langkahnya ialah dengan mensterilkan dunia pendidikan dan pengajaran dari politik. Pihaknya merasa perlu merestorasi dunia pendidikan dan pengajaran karena Indonesia pernah mengalami masa pencerahan.

Masa yang dimaksud oleh Anies ialah masa-masa ketika Ki Hadjar Dewantara meletakkan dasar pendidikan dan mulai mendirikan Taman Siswa.

Dengan meneladani ajaran Ki Hadjar Dewantara, lanjut Anies, tidak berarti kembali ke belakang, tetapi meneladani ajaran itu untuk membangun bangsa ini di depan.

"Kita ingin mengembalikan itu bukan untuk kembali ke masa lalu, tetapi untuk memenangi masa depan," kata dia.

Menurut Anies, restorasi pendidikan membutuhkan kesabaran dan komitmen. Finlandia yang dikenal memiliki mutu pendidikan terbaik membutuhkan waktu 40 tahun untuk merestorasi pendidikan mereka.

Tantangan untuk memajukan dunia pendidikan di Indonesia sangat besar. Pasalnya, dalam dunia pendidikan di negeri ini, kata dia, kita hidup di abad ke-21, tetapi gurunya abad ke-20 dan bangunan fisik sekolahnya abad ke-19.

"Ada tiga komponen yang dibutuhkan generasi ke depan, yaitu kualitas karakter, literasi dasar, dan 4 c, yaitu <>creativity, critical thinking, communication, collaboration," kata Anies mengutip World Economic Forum.

Ki Nartosabdo
Dalam mendidik anak, lanjut dia, harus melihat mereka sebagai generasi baru dengan perspektif masa depan, bukan perspektif masa lalu karena merekalah yang akan mewakili kita di masa depan. Untuk itu ia mengimbau semua masyarakat membangun integritas dan percaya diri.

Terkait dengan Hari Pendidikan Nasional yang diperingati setiap 2 Mei, di berbagai sekolah di Semarang, Jawa Tengah, para pelajar diwajibkan mengenakan pakaian adat.

Selain itu, juga dimeriahkan oleh beberapa paguyuban seni budaya dan instansi terkait juga menggelar mahakarya maestro Dalang Ki Nartosabdo di Taman Budaya Raden Saleh, Kota Semarang.

Sebanyak 30 dalang bersama peserta lainnya melakukan pawai setelah berziarah ke makam sang maestro di TPU Bergota sekaligus pawai.

Setelah pawai yang diikuti paguyuban seni budaya seperti Paguyuban Puji Langgeng Pandhemen Ki Narto-sabdo, Studio Seni Amerta Laksita, Paguyuban Karyawan BCA Pecinta Wayang (Asia Wangi), dan beberapa instansi lainnya langsung menggelar berbagai acara dari mulai karawitan, fragmen karya Ki Nartosabdo, dan juga wayang kulit dengan Dalang Ki Joko Bodas yang membawakan lakon <>Tut Wuri Handayani.

Penggagas kegiatan Cahyo Wibowo mengatakan, dalam rangka Hari Pendidikan Nasional, maka digelar Karya Besar Ki Nartosabdo dari Minggu (1/5) pagi hingga dini hari Senin (2/5), yakni dimulai dengan sajian karawitan pelajar.(AT/AS/H-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Panji Arimurti
Berita Lainnya