Lapan-BNN Kerja Sama Deteksi Ladang Ganja lewat Satelit

Dede Susianti
27/4/2016 19:37
Lapan-BNN Kerja Sama Deteksi Ladang Ganja lewat Satelit
(ANTARA FOTO/Ampelsa)

SATELIT hasil karya Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) bukan saja digunakan untuk penginderaan jarak jauh atau menghasilkan data. Kini, satelit karya Lapan juga bisa digunakan untuk deteksi keberadaan ladang ganja.

Kepala Lapan Thomas Djamaludin mengatakan, memang ada beberapa satelit Lapan yang memungkinkan berpartisipasi untuk memantau atau mendeteksi keberadaan lahan atau ladang ganja.

"Lapan kerja sama dengan Badan Narkotika Nasional (BNN). Dengan tersedianya satelit nasional dan ada kontribusi dari Satelit Lapan-A2 dan Lapan-A3/Lapan-IPB yang akan diluncurkan awal Juni mendatang, kita bisa deteksi itu (ladang ganja)," ungkap Thomas saat memberikan keterangan pers seusai acara persiapan peluncuran Lapan-A3 di Pusat Teknologi Data Lapan, di Rancabungur, Kabuaten Bogor, Jawa Barat, Senin (25/4).

Thomas menjelaskan lebih detil tentang Satelit LAPAN-A3 yang akan segera mengorbit. Satelit generasi ketiga seri A ini akan diluncurkan dari Shriharikota, India.

Lapan-A3 merupakan satelit yang memiliki berat 115 kilogram. Satelit ini membawa misi penginderaan jauh eksperimental untuk memantau sumber daya pangan. Dengan kemampuannya, Lapan-3 akan mampu mengidentifikasi tutupan dan penggunaan lahan serta pemantauan lingkungan.

Satelit ini juga mengemban misi pemantauan kapal laut. Muatan pengindera satelit LAPAN-A3 yang berupa 4 bands multispectral imager beresolusi 18 meter dengan swath 100 kilomener, ialah gagasan dari Institut Pertanian Bogor (IPB). Muatan itu lah yang akan dimanfaatkan untuk memantau tanaman.

Sebelumnya, Lapan telah berhasil membangun dua satelit yaitu Lapan-A1/Lapan-TUBSAT dan Lapan-A2/ORARI. Lapan-A1 telah diluncurkan pada Januari 2007, sedangkan Lapan-A2 diluncurkan pada September 2015. Keduanya beroperasi dengan baik.

Dalam sosialisasi ini, Lapan juga memaparkan hasil operasi Lapan-A2 selama empat bulan mengorbit. Satelit berbobot 74 kilogram itu memiliki misi fotografi untuk pemantauan permukaan bumi, pemantauan kapal laut melalui Automatic Identification System (AIS), dan komunikasi amatir.

Selama mengorbit, satelit tersebut telah berhasil memberikan potret berbagai daerah dan menghasilkan berbagai data. Saat ini, data AIS sedang dipersiapkan untuk dapat digunakan oleh kementerian atau lembaga terkait.

Program pengembangan satelit ini membuktikan kemampuan sumber daya manusia Indonesia, khususnya Lapan, dalam merancang bangun satelit sekelas 100 kilogram. Selain itu, program ini juga membuktikan bahwa Lapan mulai melayani kebutuhan teknologi satelit nasional.

Pengembangan satelit itu juga merupakan upaya mewujudkan pembangunan keunggulan kompetitif perekonomian. Teknologi satelit akan mendukung akurasi data dalam perencanaan masa tanam lahan persawahan yang akan berimplikasi langsung pada peningkatan ketahanan pangan. Hal ini tentunya akan membantu pemerintah dalam menentukan berbagai kebijakan terkait pangan, misalnya terkait impor beras. (DD/OL-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya