Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
RENCANA pemerintah untuk melakukan pemeriksaan secara massal guna mendeteksi dini virus hepatitis diakui masih sulit untuk dilakukan.
Keterbatasan sumber daya manusia (SDM) dan fasilitas kesehatan dikatakan menjadi kendala utama upaya tersebut. Belum disertakannya hepatitis sebagai salah satu penyakit prioritas dalam millennium development goals juga membuat upaya pemberantasan penyakit tersebut tidak mendapat dukungan yang cukup signifikan dari berbagai pihak.
"Sampai 2010 lalu hepatitis masih mendapat perhatian yang sangat minim, baik di dalam ataupun luar negeri," ungkap Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes RI Mohamad Subuh, kemarin.
Subuh mengatakan belum dijadikannya hepatitis sebagai penyakit prioritas tersebut membuat penyebaran hepatitis di berbagai daerah Indonesia bergerak cepat.
Menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kemenkes 2007, sebanyak 9,4% atau sekitar 21 juta masyarakat Indonesia menderita hepatitis B dan C. Sementara itu, pada 2013 penderita hepatitis diketahui sebanyak 7,2%.
"Memang persentasenya menurun, tetapi itu dengan jumlah penduduk yang juga meningkat. Jadi bisa dibilang belum ada penurunan signifikan akan penyebaran virus ini," tambah Subuh.
Ia mengungkapkan, untuk memberantas virus yang menyerang organ hati tersebut, harus dilakukan pemeriksaan secara menyeluruh dari pusat layanan kesehatan terbawah atau puskesmas. "Harus puskesmas. Jadi saat ini fokus kami agar dapat secara menyeluruh melakukan perbaikan dan pelatihan pada SDM di puskesmas. Kami berusaha lakukan itu sejak tahun lalu," tuturnya.
Saat ini, jelas Subuh, Kemen-kes menargetkan untuk mendeteksi dini hepatitis pada 500 ribu orang di berbagai wilayah. Seluruhnya akan dilakukan pada ibu hamil sebagai subjek berisiko tinggi dan berpotensi berdampak buruk pada ibu dan bayi yang dilahirkan apabila diketahui menderita hepatitis. "Untuk saat ini kami baru bisa melakukan itu. Namun, kami targetkan pada 2019 hepatitis sudah menjadi salah satu program nasional seperti Tb dan HIV," ungkapnya.
Hepatitis B kronis
Di wilayah Asia Tenggara diperkirakan, sebanyak 100 juta orang hidup dengan hepatitis B kronis (HBV) dan 30 juta orang hidup dengan hepatitis C kronis (HCV). Setiap tahunnya di wilayah tersebut, hepatitis B menyebabkan setidaknya 1,4 juta kasus baru dengan angka mencapai 300 ribu kematian. Sementara itu, setidaknya 500 ribu kasus baru hepatitis C juga muncul setiap tahun dengan angka kematian mencapai 160 ribu per tahun.
Direktur Regional WHO untuk Asia Tenggara, Poonam Singh, mengatakan, di seluruh dunia, 2 miliar orang diperkirakan menderita hepatitis B dan lebih dari 360 juta orang menderita infeksi hati kronis.
"Hepatitis kerap tidak mendapat perhatian. Ini yang sedang diubah melalui sustainable development goals (SDGs). Asia Tenggara menjadi salah satu konsentrasi wilayah. Kepastian akan akses terhadap perawatan dan pengobatan menjadi hal utama yang didukung dan didorong di setiap negara," tutupnya. (H-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved