Wirausaha Bisa Diajarkan kepada Siswa Sejak Dini

Syarief Oebaidillah
22/4/2016 21:14
Wirausaha Bisa Diajarkan kepada Siswa Sejak Dini
(ANTARA/Muhammad Iqbal)

DALAM rangka memperingati Hari Kartini, Sinarmas World Academy (SWA) mengadakan lomba yang pertama untuk siswa-siswinya, yakni Kidspreneurship, pada Kamis (21/4).

Semangat RA Kartini sebagai pemimpin emansipasi wanita Indonesia dalam bidang pendidikan patut diteladani dan diteruskan oleh semua generasi muda. Dengan lomba Kidspreneurship bertemakan 'Make a Difference' itu, diharapkan siswa siswi dapat menjadi pemimpin dalam kewirausahaan.

"Tujuan dari lomba ini untuk melatih kreativitas siswa dari usia dini, mengajarkan anak untuk melihat peluang, mendidik anak mengenai keluar masuknya uang, melatih jiwa kepemimpinan anak, melatih anak untuk berkomunikasi serta melatih kreativitas promosi," ujar Shinta Aulia, Kepala Sekolah TK dan SD SWA, dalam keterangannya kepada media, Jumat (22/4).

"Hari Kartini yang kami selenggarakan tiap tahunnya, diharapkan menjadi sarana bagi para murid untuk belajar budaya Indonesia. Mereka kami latih untuk tampil di depan umum dengan berbusana dan menampilkan seni budaya asli Indonesia," tambah Shinta.

Selain lomba Kidspreneurship, pada hari tersebut juga diadakan acara lomba parade baju daerah, pertunjukan tarian dan lagu daerah, yang dilanjutkan dengan permainan tradisional seperti sepak bola memakai sarung, lomba makan kerupuk, lomba bakiak, lomba balap telur, balap karung, dan tarik tambang. Orangtua siswa juga turut serta meramaikan acara di sekolah tersebut dengan mengikuti acara lomba membuat tumpeng.

Program ini dikenalkan kepada siswa-siswi mulai dari tingkat TK dan SD kelas 1 sampai kelas 5. Mereka saling berlomba membuka usaha yang menarik dengan berjualan makanan maupun jasa. "Program tersebut berawal dari ide mereka untuk menjual produk dan menghasilkan uang, mereka sangat antusias saat berdiskusi di dalam kelas, dan menentukan apa yang akan mereka jual. Modal didapat dari pinjaman kepada orangtua masing-masing dengan jumlah maksimal Rp50 ribu," terang Shinta.

Menurut dia, menjadi tantangan tersendiri bagi anak-anak untuk menentukan barang apa yang akan dijual, mereka belajar untuk membuat perencanaan bisnis mulai dari menentukan nama perusahaan, bagaimana strategi penjualan, berapa jumlah pengeluaran, berapa modal yang dibutuhkan, sampai berapa keuntungan yang didapat.

"Apabila perusahaan mendapat keuntungan, modal yang dipinjam dari orangtua akan dikembalikan dan 50% dari keuntungan akan disumbangkan ke organisasi ibu dan anak," imbuhnya.

Dengan memberikan sumbangan, pungkas Shinta, diharapkan bisa melatih anak-anak untuk memberi. Harapan sekolah ke depan ingin menggalakkan dan mengembangkan kegiatan enterpreneurship di tahun-tahun selanjutnya agar bisa menghasilkan pebisnis-pebisnis muda yang kreatif dan inovatif. (Bay/OL-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya