Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
PRODUKTIVITAS petani kentang Indonesia saat ini masih rendah karena terbatasnya varietas unggul bibit kentang yang sampai ke tangan petani kentang, terutama di pulau Jawa.
"Produktivitas petani kentang di Indonesia masih rendah hanya 17 sampai 20 ton per hektare (ha), sedangkan di luar negeri bisa mencapai 40 ton per ha. Hal ini karena masih sedikit petani yang menggunakan bibit kentang bersertifikat," kata Peneliti dari Balai Peneliti Sayuran Kementerian Pertanian (Kementan) Kusmana seperti dikutip Kantor Berita Antara, Senin (18/4).
Menurut dia, dari 70.000 ha lahan tanaman kentang di Indonesia, hanya 15% yang ditanami dengan varietas sertifikat. Padahal, varietas unggul ini tahan terhadap penyakit terutama busuk daun dan layu yang disebabkan bakteri.
"Pengadaan bibit unggul harus ditingkatkan untuk memenuhi kebutuhan seluruh petani," kata Kusmana.
Ia menambahkan masih banyak petani kentang yang belum mengetahui bibit unggul bersertifikat. Terkait hal tersebut, pemerintah akan terus melakukan sosialisasi karena pada akhirnya kalau tanamannya banyak yang mati yang rugi petani itu sendiri.
Kusmana mengatakan untuk meningkatkan produksi bibit unggul Kementan telah melegalisasi enam institusi untuk melakukan penangkaran bibit kentang termasuk perusahaan produsen benih sayuran di Tanah Air, PT East West Seed Indonesia.
"Kami langsung melakukan pengawasan terhadap penangkaran varietas unggul kentang tersebut. Harapannya produktivitas nantinya dapat ditingkatkan sehingga kebutuhan kentang sepenuhnya dapat dipasok dari petani dalam negeri," ujarnya.
Kusmana mengatakan dilibatkannya perusahaan dalam penangkaran karena mereka sudah memiliki jaringan distribusi ke daerah-daerah produsen kentang sampai ke tingkat petani. Sehingga distribusi bibit unggul kentang ini dapat disampaikan lebih cepat.
Ia berharap dengan berjalannya program pengadaan bibit unggul ini, petani yang menggunakan bibit unggul juga dapat ditingkatkan dari 15%, naik menjadi 20% atau bahkan 25% dalam waktu dekat.
Guru Besar IPB Prof Dr GA Wattimena, MSc membenarkan salah satu penyebab rendahnya produktivitas petani kentang di Indonesia disebabkan penyakit, sehingga untuk meningkatkan produktivitas harus ada bibit unggul serta meningkatkan pemberian pupuk.
Berbeda dengan Eropa dan AS yang memiliki musim dingin sehingga penyakit tanaman kentang tidak terlalu banyak, Indonesia dengan iklim tropis memungkinkan munculnya berbagai penyakit. Keuntungannya dengan iklim seperti Indonesia usia panen lebih cepat 100 hari, sedangkan di Eropa dan AS bisa 120 hari, jelas Wattimena.
Perbedaan juga pada kondisi tanah, kalau di luar negeri tidak pernah diberikan pupuk kandang cukup NPK saja, tetapi di Indonesia pemberian pupuk kandang wajib. "Kemudian tanaman kentang juga baru dapat tumbuh di dataran tinggi atau iklim dengan suhu 20 derajat Celcius," ujar dia.
Kentang di Indonesia ada dua yang dikenal yakni granola dan atlantik. Granola biasanya untuk dibuat keripik, sedangkan atlantik biasanya dibuat kentang goreng. "Atlantik di Indonesia memilik kelemahan yakni rentan terkena penyakit layu," jelas Wattimena.
Wattimena mengatakan kelemahan dalam melakukan karantina tanaman dari luar membuat munculnya berbagai penyakit pada tanaman kentang. Bahkan ada salah satu daerah di Jawa Tengah yang sampai sekarang tidak bisa memproduksi kentang lagi akibat penyakit. Karena itu, Kementan harus secepatnya menciptakan generasi baru bibit kentang yang tahan terhadap penyakit.
Dia yakin kalau produktivitas tanaman kentang dilihat dari jangka waktu bukan luasan area, Indonesia sebenarnya dapat lebih baik. "Ukurannya bukan ton per ha, tetapi ton per bulan karena panen kita lebih cepat." (Ant/OL-5)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved