MUI Soroti Demoralisasi Persoalan Serius Bangsa Indonesia

Syarief Oebaidillah
20/4/2016 22:28
MUI Soroti Demoralisasi Persoalan Serius Bangsa Indonesia
(ANTARA/RENO ESNIR)

BANGSA Indonesia dewasa ini tengah menghadapi masalah besar dalam tahap problematika yang kompleks dan sulit diatasi. Oleh karena itu, harus ada kerangka strategis bersama antara ulama, pemerintah, dewan, dan masyarakat mencari solusi.

Dalam kaitan itu, Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat menggelar rapat pleno membahas merebaknya gejala penyebab kerusakan moral dan budaya.

"Kami bersepakat kondisi kita dewasa ini khususnya umat Islam menghadapi problematika yang akumulatif dan tali temali yang rumit. Jika dulu kita sebut masalah dekadensi moral, tapi sekarang lebih dari itu, yakni proses demoralisasi yang serius," ujar Ketua Dewan Pertimbangan MUI Din Syamsuddin seusai rapat pleno di Gedung MUI Pusat Jakarta, Rabu (20/4).

Dikatakan Din, kerusakan itu bersifat akumulatif beserta akar-akarnya. Ia mencontohkan maraknya praktik korupsi, egoisme sektarian yang semakin mengkotakkan manusia berdasarkan suku, etnis, kelompok politik tanpa melihat aspek kapabilitas dan profesionalitas. Berikutnya, lanjut Din, ialah faham materialisme yang semakin menguasai alam bawah sadar manusia yang mengendalikan budaya manusia.

"Juga kriminalitas yang semakin merajalela, seolah nyawa manusia tidak berharga serta faham permisivisme yang memuja kebebasan individu, antisosial sehingga terjerembab pada zina, seks bebas, provokasi, dan sejenisnya," papar Din.

Karena itu, mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah ini menyatakan penanggulangan masalah memerlukan strategi tepat.

Menurut dia, negara belum memiliki srategi kebudayaan dalam menangkal kerusakan tersebut. Proses dakwah pun, menurutnya, hanya sebatas pada kemeriahan.

"Dakwah kita ibarat bermain bola itu tidak masuk ke gawang. Kita kurang memiliki aktor dan operator. Maka untuk menanggulangi kita perlu jangka panjang strategi kebudayaan," ujarnya.

Nasaruddin Umar, Wakil Ketua Dewan Pertimbangan MUI, menambahkan keprihatinannya terhadap rapuhnya ketahanan keluarga yakni dengan tingginya angka perceraian.

"Saat ini, fenomena perceraian sekitar 12,3% setiap dari dua juta pasangan pernikahan," cetusnya.

Din dan Nasaruddin sepakat pentingnya pendidikan Islam dalam membentuk ketahanan keluarga serta dapat masuk dalam kurikulum nasional.

Dewan Pertimbangan MUI Pusat juga telah membentuk Komisi Sosial Budaya dalam penguatan peran sosial budaya umat Islam Indonesia dengan penguatan keluarga, pengembangan generasi muda, perlindungan umat dari kemurtadan dan aliran sesat, serta revitalisasi budaya Islam melalui kesultanan. (Bay/OL-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya