Songsong WCF 2016, Mendikbud Tegaskan Kebudayaan Hulu Pembangunan

Syarief Oebaidillah
18/4/2016 19:35
Songsong WCF 2016, Mendikbud Tegaskan Kebudayaan Hulu Pembangunan
(ANTARA/Indrianto Eko Suwarso)

KEBUDAYAAN merupakan komponen dalam pembangunan suatu bangsa. Sejatinya kebudayaan tidak bisa terpinggirkan karena merupakan salah satu tonggak utama pembangunan.

"Kebudayaan adalah hulunya pembangunan. Hal itu sudah ditegaskan berulang kali dalam berbagai konvensi dan dokumen UNESCO. Namun dalam praktiknya, kebudayaan sering dianggap sebagai pelengkap saja. Karena itu, World Culture Forum (WCF) 2016 akan membahas semua hal itu dengan gagasan dan solusi konkret," papar Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan saat konferensi pers jelang WCF 2016 di Kemendikbud, Jakarta, Senin (18/4).

Anies, yang didampingi Dirjen Kebudayaan Kemendikbud Hilmar Farid, menambahkan WCF 2016 akan digelar di Bali pada 10-14 Oktober mendatang dengan diikuti 1.500 peserta dari berbagai kalangan dari seluruh dunia untuk membicarakan kebudayaan, khususnya dalam penyelenggaraan pembangunan.

Mendikbud menjelaskan, WCF merupakan forum untuk merumuskan landasan kebudayaan untuk membangun dunia yang lebih inklusif. Mantan Rektor Universitas Paramadina itu berharap kehadiran peserta dari berbagai negara di dunia dengan beragam latar belakang akan menjadi ajang pertukaran gagasan serta pengalaman antarsektor, antarwilayah, dan antargenerasi pada forum tersebut.

Ia mengatakan, Indonesia memiliki modal besar dan menjadi contoh bagi negara lain. Pasalnya, Indonesia memiliki keragaman luar biasa sebagai modal untuk pembangunan, bertanggung jawab dan memiliki harmoni, karena di sini terdapat kesatuan juga persatuan.

Tidak kalah penting, lanjut Anies, Indonesia mempunyai kearifan lokal sebagai bagian dari kebudayaan Tanah Air. Melalui WCF 2016, diharapkan memberikan kesempatan bagi Indonesia untuk menerjemahkan kebudayaan lokal menjadi sebuah teori global yang bisa dipahami semua pihak, sehingga bisa digunakan dunia.

Selain itu, WCF 2016 dapat menjadi jembatan minimal antara tiga komponen, meliputi jembatan antara masa lalu dan masa depan, jembatan generasi kemarin dan generasi masa depan, serta jembatan warisan kemarin dengan lanskap baru yang modern. "Output-nya adalah menempatkan Indonesia sebagai rujukan dari berbagai dunia," pungkasnya.

Sementara itu, Himar Farid menambahkan, berbeda dengan penyelenggaraan tahun lalu, WCF 2016 memasukkan agenda kunjungan ke lapangan dan agenda kesenian sebagai bagian integral WCF. "Kesenian di sini cara berekspresi begitu pula kunjungan ke lapangan bukan pengisi waktu senggang tetapi cara agar peserta dapat mengalami bersama apa yang dibahas dalam WCF," ujarnya.

Dengan begitu, WCF 2016 akan menjadi pengalaman mengesankan bagi setiap peserta. Yang menarik, pihaknya akan menyertakan kaum muda dari berbagai komunitas, dan memberikan kesempatan bagi mereka berekspresi.

"Kami akan gelar Youth Forum sebelum WCF resmi dilaksanakan. Tujuannya agar kaum muda dapat kesempatan cukup untuk membicarakan hal penting untuk kalangan mereka," pungkas Hilmar. (Bay/OL-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya