Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
PEMAHAMAN akan gejala dan penanganan alergi yang rendah menjadi pemicu terjadinya dampak buruk akibat alergi, khususnya pada anak-anak. Penyebab alergi yang tidak segera terdeteksi dapat menyebabkan munculnya penyakit dalam jangka panjang seperti asma, rhinitis, dan penyakit degeneratif.
"Banyak masyarakat yang cenderung mengabaikan. Padahal, alergi memiliki dampak lebih dari sekadar gangguan atau gejala pada pernafasan, kulit, atau pencernaan," ungkap Ketua Departemen Ilmu Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (IKK FK UI), Herqutanto, di Jakarta, Minggu (17/4).
Ia mengungkapkan, alergi umumnya terjadi pada anak-anak. Sekitar 20% anak pada usia satu tahun pertama mengalami reaksi berupa alergi pada makanan yang diberikan. Makanan dengan kandungan protein hewani menjadi pemicu alergi terbesar pada anak-anak dan bayi.
"Makanan masih menjadi pemicu terbesar alergi. Makanan dengan tambahan bahan penyedap dan pengawet memiliki potensi lebih besar menyebabkan alergi," tambahnya.
Diungkapkan Herqutanto, berdasarkan penelitian Allergy and Asthma Foundation of America menyatakan alergi susu sapi merupakan kasus alergi yang paling banyak terjadi pada anak-anak di seluruh dunia. Di Indonesia, satu dari 25 anak menderita alergi protein susu sapi.
Sementara berdasarkan data World Allergy Organization (WAO) 2011 diketahui prevalensi alergi terus meningkat dengan angka 30%-40% dari total populasi dunia. Data tersebut sejalan dengan data dari Center for Disease Control and Prevention (CDC) yang mencatat adanya kenaikan angka kejadian alergi hingga tiga kali lipat sejak 1993 hingga 2006.
"Umumnya seseorang baru menyadari adanya alergi pada tubuh ketika telah muncul gejala yang sama lebih dari sekali. Ketika itu sangat disarankan untuk segera melakukan pemeriksaan atau tes alergi untuk mencegah dampak buruk, terutama jika ternyata alerginya berasal dari obat-obatan kimia," ungkapnya.
Beberapa gejala alergi akibat makanan yang muncul pada tubuh, khususnya anak-anak di antaranya ruam, bintik merah, gatal, diare, mual, serta sesak nafas pada beberapa kasus tertentu. Sementara akibat obat, dampak alergi yang umum ditimbulkan dapat lebih parah hingga menyebabkan anafilaksis atau reaksi kegagalan fungsi sistem tubuh secara luas.
Presiden Direktur Sarihusada, Olivier Pierredon mengatakan, upaya pengenalan dan pemantauan gejala secara rutin menjadi kunci pencegahan dampak buruk antibiotik. Selain itu, pada anak-anak pemilihan makanan pengganti ASI yang tepat menjadi kunci pembentukan daya tahan tubuh anak, termasuk dalam melawan alergi.
"Faktor resiko sangat penting dimengerti orang tua. Termasuk cara mengendalikannya bila alergi telah terjadi," ungkapnya. (OL-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved