Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
KEBIJAKAN penenggelaman kapal pencuri ikan yang dikeluarkan Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP), Susi Pudjiastuti, membuat orang tercengang dan kaget.
Ketegasannya dinilai lebih berani daripada pejabat sebelumnya.
Seiring dengan waktu dan konsistensi yang ditampilkan Susi, akhirnya apa yang dilakukannya mendapat dukungan dari berbagai lapisan masyarakat.
"Hukuman yang paling jelas ya itu, tenggelamkan dan itu semua sudah diatur undang-undang," tegas Susi.
Ia tidak segan menangkap dan menenggelamkan kapal asing yang hendak mencuri ikan di perairan Indonesia.
Selama masih menjabat menteri kelautan dan perikanan, ia tidak akan mengampuni para pencuri ikan.
"Selama mereka masih mencuri ikan di Indonesia, kita akan tenggelamkan. Jelas itu merupakan amanah dari undang-undang. Bukan maunya saya lo," ungkap Susi.
Di periode sebelumnya, penenggelaman kapal sudah banyak dilakukan, tapi minim publikasi karena menjaga hubungan baik dengan negara lain.
Berbeda saat Susi menjabat, publikasi dilakukan secara besar dan mendapatkan apresiasi dunia internasional.
"Tujuan jelas, supaya para pencuri ikan ini jera dan menunjukkan kita tidak pernah main-main dengan para pencuri. Indonesia itu sangatlah luas. Sebesar apa pun kemampuan patroli kita tentu tidak mungkin kita bisa menutup pintu rapat-rapat jika kita tidak menerapkan efek jera seperti ini," tegas Susi.
Tindakan itu bukan semata bentuk kearoganan Susi.
Buktinya, saat baru seminggu menjabat, ia mengundang para duta besar negara tetangga untuk berkompromi tentang rendahnya angka ekspor perikanan Indonesia akibat adanya pencurian.
"Saya bilang ke para duta besar ini, saya akan mulai menegakkan segala aturan seperti ini karena ada di undang-undang negara kita. Reaksi mereka ternyata sangat setuju karena permasalahan illegal fishing ternyata tidak hanya di Indonesia, tapi di seluruh dunia," ungkapnya.
Sebanyak 174 kapal sudah ditenggelamkan.
Tidak hanya itu, Susi juga memperhatikan nasib nelayan Indonesia yang mengeluhkan banyak pungutan retribusi.
Ia pun menghapuskan biaya retribusi dan membuat regulasi mendukung nelayan.
Laut China Selatan
Penangkapan kapal asal Tiongkok pada pertengahan Maret 2016 mencuri perhatian.
Bahkan, itu menyebabkan hubungan kedua negara memanas yang bermula saat KP Hiu 11 milik KKP menangkap Kapal KM Kway Fey 10078 di perairan Natuna, Sabtu (19/3).
Proses penangkapan itu tidak berjalan mulus karena kapal coast guard Tiongkok masuk ke perairan Indonesia dan sengaja menabrak KM Kway Fey 10078, Minggu (20/3) dini hari, ketika penggiringan kapal dilakukan.
Manuver berbahaya itu diduga mempersulit KP Hiu 11 dalam menahan awak KM Kway Fey 10078.
"Jadi, hari itu kapal patroli sedang melakukan tugasnya dan melihat di radar ada sebuah kapal Tiongkok yang menangkap ikan di wilayah ZEE kita. Lalu dengan cepat kapal kita mendatangi kapal tersebut dan dilakukan tembakan peringatan lalu petugas kita mendatangi kapal tersebut dan menarik ABK-nya untuk dipindahkan ke kapal kita," terang Susi.
Saat itu kapal patroli Indonesia segera menggiring KM Kway Fey 10078 ke perairan Natuna, Indonesia.
Setelah memasuki wilayah teritorial Indonesia dengan jarak 12 mil, kapal patroli milik Tiongkok datang dan menabrak kapal ikan itu.
"Ada perintah dari pihak TNI untuk menghindari konflik. Kita biarkan kapal patroli Tiongkok tersebut dan kita tahan ABK dari kapal pencuri ikan itu," sambung Susi.
Setelah kejadian itu, Susi langsung meminta dukungan TNI-AL untuk mengerahkan kapal patroli dalam jumlah yang lebih banyak di perairan Natuna.
Itu dilakukan untuk memberikan rasa takut kepada para pencuri ikan yang hendak memasuki area itu.
Atas kejadian itu, Susi berharap agar hubungan diplomatik kedua negara tetap berjalan dengan baik.
Setiap negara yang mengerti hukum akan tetap setuju dengan apa yang dirinya lakukan.
"Hubungan sampai saat ini masih baik. Mungkin setelah kejadian tersebut, ada sedikit ketegangan. Tapi seharusnya setiap negara itu harus ikut memerangi illegal fishing. Kalau tidak, negara tersebut memproteksi dan berada di balik kegiatan illegal fishing," tegas Susi.
Mafia laut
Tanpa disadari, Susi mengakui segala bentuk kejahatan di laut diatur rantai mafia yang terorganisasi dengan baik.
Para mafia pun sudah melakukan kerja sama dengan beberapa negara lain.
"Seperti beberapa kapal itu kalau beraksi sudah mempersiapkan segala sesuatu, seperti kapal tanker untuk mengisi bahan bakar, kapal logistik dan bahkan kapal transshipment untuk memindahkan hasil tangkapan," ungkap Susi.
Karena itu, jika setiap hari ikan di Indonesia dicuri ribuan kapal, bisa dipastikan dalam 10 tahun ke depan hasil ikan dan laut Indonesia akan habis dikeruk para mafia.
"Jadi, memang kita tidak bisa main-main dengan para pencuri ikan tersebut. Dampaknya terhadap laut Indonesia beserta isinya akan habis dalam hitungan tahun," ujar Susi.
Susi tidak menutup kemungkinan para mafia dari luar negeri bekerja sama dengan orang-orang di dalam negeri. Tanpa kerja sama, akan sangat sulit mengetahui isi dapur laut Indonesia.
"Bantuan berupa informasi, pemalsuan dokumen, dan pengaruh seperti mengenal pejabat itu yang dimanfaatkan kerja sama tersebut," tegas Susi.
Susi yakin pemberantasan mafia dan pencuri akan berdampak pada peningkatan tangkapan hasil laut nelayan seperti dulu.
"Seperti di Sabang, Merauke, Gorontalo, dan masih banyak lagi. Semua daerah itu kini mendapatkan hasil tangkapan yang meningkat lebih dari 100% setiap tahunnya. Tak hanya itu, laporan dari Menteri ESDM juga kita sudah menghemat puluhan ribu liter BBM dari hasil selundupan yang digunakan para pencuri ikan itu," papar Susi.
Warisan
Menjadi menteri memang terbayangkan oleh Susi. Namun, Susi tak akan pernah lupa menelurkan nilai-nilai kehidupan yang tentunya baik untuk anak-anaknya di masa mendatang.
"Kemandirian, kejujuran, sportif, konsisten, dan konsekuen karena apa yang kita lakukan ke depannya akan mendapatkan konsekuensi. Jadi, setiap langkah pasti ada konsekuensi dan reward. Saya percaya karena Tuhan akan memberikan jalan akhirnya akan seperti apa," jelas Susi.
Namun, pukulan terberat bagi Susi ialah saat putranya, Panji Hilmansyah, meninggal.
Bahkan, ia sempat beranggapan anaknya korban dari musuhnya.
"Awalnya memang ada terlintas seperti itu. Namun, setelah di cek, memang benar dia meninggal karena ada sesak napas dan dia ada asma. Jadi, badan kurang sehat dan kelelahan, serta dokter bilang anak saya itu ada gagal jantung saat tidur," kenang Susi.
Pascakematian putranya, pikiran dan jiwa perempuan bertangan besi itu kerap kosong.
Ia menyesal kurang menyediakan waktu untuk keluarganya.
Bahkan, ia tidak berada di sisi Panji saat putranya itu mengembuskan napas terakhir.
"Terkadang masalah itu memang sudah dari dulu karena saya dulu juga kerja. Tapi saya mencoba memberikan kualitas kepada waktu. Tapi memang kadang-kadang terpikir untuk lebih konsentrasi ke keluarga. Namun, karena saya masih punya tenaga dan pikiran untuk negara, jadi ya saya rela seperti ini dulu," terangnya.
Terakhir, Susi memiliki mimpi membuat laut Indonesia menjadi lebih sehat, pasokan ikan banyak, setiap orang bisa menangkap ikan di laut, dan ekspor hasil laut Indonesia menjadi nomor satu di dunia.
"Meski saat ini banyak juga orang yang demo, marah, saya berharap ujungnya orang-orang tersebut mengakui apa yang saya lakukan ialah sesuatu yang baik untuk negeri ini," pungkas Susi.
(M-5)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved