Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
DIABETES Melitus atau DM sampai saat ini masih menjadi persoalan kesehatan yang serius tidak hanya di negara-negara berkembang, melainkan juga di negara maju. Indonesia pun menghadapi masalah ini. Bahkan, Indonesia tercatat sebagai negara keempat yang memiliki prevalensi diabetes tertinggi di dunia setelah India, Tiongkok, dan Amerika Serikat.
Di Indonesia, jumlah pengidap diabetes juga terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, terutama untuk DM tipe 2. Badan Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan jumlah penderita DM tipe 2 di Indonesia akan mengalami peningkatan secara signifikan hingga 21,3 juta jiwa pada 2030 mendatang.
“Lebih dari 60% pengidap diabetes tidak sadar kalau dirinya terkena diabetes. Kebanyakan datang ke dokter sudah dalam kondisi komplikasi,” jelas Ahli Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran (FK) UGM, dr R Bowo Pramono, SpPD, KEMD(K) di Yogyakarta, Rabu (6/4).
Melihat kondisi ini, Bowo menekankan pentingnya peningkatan kesadaran masyarakat untuk lebih mengenali gejala diabetes sedini mungkin. Terdapat tiga gejala klasik diabetes yang dikenal dengan istilah 3 P, yaitu poliuri atau sering buang air kecil, polifagi atau sering merasa lapar, dan polidipsi atau sering merasa haus.
Di samping itu, diabetes juga sering ditandai dengan penurunan berat badan tanpa disertai dengan sebab yang jelas. "Gejala-gejala ini memang kerap tidak diperhatikan sebagai keadaan yang harus dikhawatirkan sehingga tidak ada langkah untuk melakukan pemeriksaan ke dokter," terangnya menyambut peringatan Hari Kesehatan Sedunia yang berlangsung Kamis (7/4) besok.
Pada peringatan Hari Kesehatan Sedunia tahun ini, WHO mengangkat tema upaya pengentasan diabetes. Bowo menyebutkan bahwa diabetes bukanlah suatu penyakit yang mematikan. Namun begitu, penyakit yang timbul akibat peningkatan kadar gula dalam darah ini bisa mematikan apabila terjadi komplikasi.
“Karenanya skrining itu diperlukan dengan rajin check up setahun sekali,” tegasnya.
Bowo menuturkan untuk menekan risiko terkena diabetes masyarakat diharapkan lebih memperhatikan kesehatan dengan menjalani pola hidup sehat. Pola hidup sehat tersebut antara lain dengan makan sesuai kebutuhan disertai komposisi nutrisi seimbang dan melakukan olahraga secara rutin.
"Pencegahan primer dilakukan dengan menjaga agar orang yang berisiko diabetes tidak sampai terkena diabetes sehingga perlu dilakukan skrining,” ujar Kepala SMF/KSM Penyakit Dalam RSUP Dr Sardjito ini.
Adapun pencegahan sekunder dilakukan agar penderita diabetes tidak mengalami komplikasi akut. Pasalnya, DM apabila tidak dikelola dengan baik akan menyebabkan komplikasi kronis seperti stroke, serangan jantung, gangguan syaraf tepi, dan amputasi. Begitu pula dengan pencegahan tersier perlu dilakukan agar penderita diabetes yang terkena komplikasi tidak mengalami cacat, amputasi, bahkan kematian.
“Karenanya, program edukasi dan sosialisasi terhadap gejala, upaya pencegahan, dan pengelolaan diabetes ini sangat dibutuhkan untuk menekan prevalensi diabetes secara nasional,” pungkasnya. (AU/OL-5)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved