Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
BADAN Tenaga Nuklir Nasional (Batan) terus melakukan pengembangan untuk mewujudkan nuklir sebagai salah satu energi di Indonesia melalui Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Di Yogyakarta, Selasa (22/3), Batan juga menggelar pertemuan dengan sejumlah negara membicarakan potensi serta peluang pengembangan PLTN di Indonesia.
Deputi Bidang Teknologi Energi Nuklir Batan Taswanda Taryo mengatakan, pemerintah melalui Menteri Koordinator Kemaritimian Rizal Ramli, telah menyetujui pengembangan PLTN meski harus memakai kapasitas yang tidak terlalu besar atau dengan daya sekitar 200-250 dan dengan harga yang kompetitif.
"Sebulan lalu kita dipanggil Menko Rizal Ramli, dia setuju PLTN tapi yang small medium reactor, dan yang penting harganya masih kompetitif," kata Taswanda di Hotel Hyatt Yogyakarta.
Menurut dia, pembangunan PLTN di Indonesia memang sudah seharusnya dilakukan mengingat kebutuhan energi setiap tahun semakin banyak. Sampai 2025, lanjut Taswanda, kebutuhan listrik mencapai 115 giga dan itu tidak mungkin tercukupi oleh energi baru terbarukan (EBT) yang sedang digalakkan oleh pemerintah saat ini.
Energi listrik yang dihasilkan oleh EBT, lanjut Taswanda, diprediksi mencapai 23%, tapi berdasarkan hitungan pihaknya hanya sampai kisaran 16-17%. "Nah, Batan mempesiapkan PLTN sebagai salah satu penghasil energi listrik di Indonesia," terangnya.
PLN, menurut Taswanda, telah membuat Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) sampai 2025 dan melakukan penghitungan untuk PLTN sekitar 3,8 giga. Namun, PLN masih menunggu keputusan dari Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral.
Pembangunan PLTN, dalam kajian Batan, sangat memungkinkan dilakukan di Bangka Belitung. Batan bersama dengan PLN telah juga mempersiapkan segala sesuatunya sejak 2011. "Di Bangka Belitung sudah siap dibangun PLTN."
Perwakilan dari International Atomic Energy Agency (IAEA), Syahril, menyatakan siap memberikan bantuan kepada Indonesia untuk mengembangkan PLTN. Menurutnya, Indonesia 'hijau' di Asia Pasifik untuk membangun PLTN. "Artinya dari infrastruktur dan pengolahan limbah serta manajemen telah siap membangun PLTN," katanya.
Selain itu, dalam catatan IAEA, Indonesia juga berperan penting sebagai negara yang menjadi acuan untuk pengembangan nuklir di bidang industri. "Batan itu jadi pusat acuan di Asia Pasiik," terang Syahril.
Taswanda menyatakan masyarakat Indonesia tidak perlu merisaukan persoalan keamanan uranium sebagai bahan nuklir. Menurutnya, Batan telah mempersiapkan 3 hal mendasar sebelum membangun PLTN, yakni keselamatan, keamanan, serta bahan bakar nuklir.
Untuk bahan bakar nuklir, Peneliti Eksplorasi Batan Heri Syaeful meyakinkan, Indonesia memiliki banyak sekali cadangan uranium dan thorium dan bisa digunakan sampai puluhan tahun. Hasil dari eksplorasi Batan yang telah dilakukan sejak 1970-an, menemukan ada sekitar 77 ribu ton uranium di Mamuju, Sulawesi. "Tahun 2013 kami menemukan di Mamuju, Sulawesi," katanya.
Adapun untuk thorium, lanjut Syaeful, Batan menemukan sekitar 133 ribu ton di Bangka Belitung, dan Ketapang, Kalimantan Barat. "Namun, paling banyak di Bangka Belitung," katanya.
Jika setahun dibutuhkan 1000 mega watt listrik, berdasarkan perhitungan Batan, kebutuhan uranium bisa mencapai 24 ton. Dan dengan stok uranium serta thorium yang melimpah, PLTN bisa menjadi energi baru di Indonesia. (FU/OL-5)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved