Translokasi Badak Sumatra Harus Segera Dilakukan

Fetry Wuryasti
21/3/2016 23:30
Translokasi Badak Sumatra Harus Segera Dilakukan
(DOK SRS)

PEMERINTAH diminta segera melakukan pemindahan atau translokasi Badak Sumatra yang ditemukan di Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur, dari kandang sementara ke habitat yang lebih layak. Permintaan itu disampaikan dua mitra tim penyelamatan Badak Sumatra, World Wildlife Fund (WWF) Indonesia dan Yayasan Badak Indonesia (Yabi).

Widodo Ramono, Direktur Eksekutif Yabi, menegaskan pentingnya Badak Sumatra di Kalimantan memiliki suaka yang dikelola serupa dengan Sumatran Rhino Sanctuary (SRS) di Taman Nasional Way Kambas, Lampung. Dia meminta sesegera mungkin harus dilakukan translokasi badak yang ditemukan. Sebab, apabila tidak, badak akan menjadi jinak dan sulit dilepas ke hutan.

"Penempatan Badak Sumatra di dalam hutan lindung akan memungkinkan pengamanan dan pengawasan yang ketat bagi populasi yang ada. Maka harus ada tempat yang baik. Insya Allah akan ditempatkan di hutan lindung Kelian di Kutai Barat. Lokasinya menyambung dengan hulu Sungai Barito, daerah Melak, Kutai Barat," ujarnya dalam ramah tamah dalam rangka Hari Hutan Internasional (Forest Day) 2016 di Jakarta, Senin (21/3).

Sebelumnya, seekor Badak Sumatra berhasil ditemukan dalam lubang perangkap di Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur, Sabtu (12/3) lalu. Badak yang diketahui berjenis kelamin betina dan berusia 6 tahun itu, kini berada di kandang sementara (boma), yang memiliki luas hanya sekitar 50 meter persegi dari idealnya 200 meter persegi.

"Kami mau paling tidak area untuk badak seluas 10 hektare. Maksimum dalam waktu dua bulan badak tersebut sudah harus ditranslokasi ke area baru. Bila tidak, boma yang ada kini harus diperluas. Namun, pastinya administrasi untuk meminjam lahan tidak mudah," terangnya.

Oleh karena itu, pemerintah dalam hal ini Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) diminta segera melakukan pemindahan atau translokasi badak tersebut ke habitat yang lebih aman.

Pada kesempatan sama, CEO WWF Indonesia Efransjah mengatakan bahwa menyediakan tempat yang aman bagi badak itu sangat penting karena sebagian populasi Badak Sumatra yang telah teridentifikasi, berada di daerah yang rawan akibat kegiatan pertambangan, perkebunan, industri kayu maupun pembalakan liar.

Sementara itu, Menteri LHK Siti Nurbaya mengatakan dalam beberapa bulan terakhir juga telah terlahir 7 ekor Badak Jawa. Kelahiran itu sesuai dengan proyeksi KLHK mengenai pengembangan konservasi satwa.

"Yang menggembirakan sebetulnya kita sebelumnya berpikir populasi badak habis, tahunya ada, di Kalimantan ada sekitar 15. Kemudian di taman nasional diperkirakan ada 57. Nah di dalam proyeksi KLHK, pengembangan atau konservasi satwa yang dilindungi ini tiap tahun naik seluruhnya 10%. Jadi dari populasi 57 sekarang sudah lahir 7 ekor," kata Siti.

Di sisi lain, lanjut Menteri, kasus kematian gajah justru memprihatinkan. Dari tahun 2014-2016, gajah yang mati sebanyak 83 ekor dengan urutan pertama terjadi di Riau, sebanyak 44 ekor gajah tewas, di Aceh 26 ekor, di Lampung 11 ekor, Bengkulu 5 ekor, Jambi 5, Sumatra Selatan 2, dan Sumatra Utara 1.

"Rata-rata kematian gajah ini karena diracun, sebagian perburuan. Memang begitu situasinya. Habitat mereka terjepit dengan daerah konsesi. Artinya pemerintah harus mewaspadai dan antisipasi, untuk menjaga kantong-kantong populasi gajah. Pemerintah, termasuk kami, KLHK, Kemendagri, dan Kemenatan harus sangat berhati-hati di dalam mengalokasikan area terutama di kantong populasi gajah," tukasnya. (Try/OL-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya