Misi Pertama Sekaligus Terakhir sang Kopilot

Nicky Aulia Widadio
21/3/2016 20:08
Misi Pertama Sekaligus Terakhir sang Kopilot
(ANTARA)

KEDIAMAN keluarga Letda Cpn Tito Hadianov Wibisono pada Senin (21/3) siang tampak ramai. Keluarga dan kerabat terus berdatangan. Belasan karangan bunga berjejer mengelilingi rumah Tito di Komplek Polri, Ragunan, Jakarta Selatan. Semua menunjukkan rasa belasungkawa.

Letda Cpn Tito Hadianov Wibisono ialah satu dari 13 korban yang meninggal dalam kecelakaan helikopter TNI AD jenis Bell 412 EP dengan plat nomor HA 5171 pada Minggu (20/3) lalu di Kelurahan Kasiguncu, Kecamatan Poso Pesisi, Sulawesi Tengah. Tito bertugas untuk mengamankan wilayah Poso dari kelompok teroris Santoso.

Operasi di Poso merupakan operasi militer pertama Tito sebagai co-pilot. Meski ditugaskan di daerah konflik, ayah Tito, Suprapto, mengaku tidak menyimpan kekhawatiran. "Keluarga saya juga banyak yang militer dan polisi, toh nggak apa-apa," ujar Suprapto saat ditemui di rumahnya pada Senin (21/3).

Tito dan tim operasi militer berangkat dari Jakarta pada Sabtu lalu menggunakan pesawat Hercules. Sebelum Tito terbang ke Poso, Suprapto mengaku rutin berkomunikasi dengan putranya melalui pesan singkat. "Dari Minggu pagi saya rutin komunikasi dengan dia sampai jam 5 sore sebelum dia terbang," tutur Tito.

Saat mendengar kabar jatuhnya helikopter, Suprapto masih menyimpan harapan bahwa kabar pesawat yang jatuh itu bukan helikopter yang dinaiki Tito. "Saat mendengar heli yang jatuh itu yang dinaiki Danrem, saya langsung ikhlas. Sebelumnya Tito bilang ke saya kalau dia satu heli dengan Danrem," jelas Suprapto. Tito memang berada di helikopter yang sama dengan Komandan Resimen Militer Kolonel Infantri Saiful Anwar.

Tito merupakan lulusan dari Akademi Penerbangan Angkatan Udara pada 2014 lalu. Sebelum ditugaskan ke Poso, Tito pernah bertugas dalam misi pengawalan Presiden dan Wakil Presiden. Menurut sang ayah, menjadi seorang pilot ialah cita-cita Tito sejak kecil. "Setiap saya belikan mainan, dia selalu memilih pesawat," kenang Suprapto.

Keseriusan Tito dengan cita-cita tersebut ia wujudkan dengan bergabung di Sekolah Penerbangan TNI AU. Suprapto pun masih terngiang kebanggaan sang anak dengan cita-citanya menjadi penerbang. Tito ialah anak ketiga dari empat bersaudara. Di antara ketiga saudaranya, hanya Tito yang menjadi militer.

Di mata Suprapto, Tito anak yang patuh dan tidak pernah menyulitkan orang. "Dengan semua orang pun dia selalu santun," kenangnya.

Letda Cpn Arif Prabowo yang merupakan rekan seangkatan Tito, menilai Tito sebagai sosok periang yang sering bercanda dengan rekan-rekannya. "Dia juga selalu baik dan royal terhadap teman-temannya," ujar Arif.

Sebagai teman dekat semasa pendidikan, Arif mengaku kaget mendengar kabar jatuhnya helikopter yang ditumpangi Tito. Arif tidak menyangka perjalanan Tito ke Poso menjadi dinas pertama sekaligus terakhir Tito sebagai kopilot.

Meski merasa kehilangan, Suprapto dan Arif mengaku ikhlas dengan kepergian Tito. "Sayang sekali memang ini harus jadi tugas pertama dan terakhir Tito. Tapi saya ikhlas karena ketika dia menjadi prajurit TNI ini sudah menjadi risikonya," tutur Suprapto.

Jenazah Tito Hadyanto rencananya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan. Hingga Senin sore, belum ada kepastian kapan jenazah Tito akan dimakamkan. Jenazah Tito dan 13 korban lainnya masih berada di Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, untuk diidentifikasi. (*/OL-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya