Pendidikan Belum Tumbuhkan Nasionalisme Sejak Dini

Antara
18/3/2016 02:07
Pendidikan Belum Tumbuhkan Nasionalisme Sejak Dini
(Foto Istimewa)

PENELITI senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Prof Jan Sopaheluwakan menyatakan sejumlah fenomena negatif yang terjadi dalam kehidupan berbangsa belakangan ini bersumber dari lemahnya penanaman rasa nasionalisme dalam sistem pendidikan yang seharusnya ditumbuhkan sejak usia dini.

"Kita lihat sekarang ini rakyat disuguhi banyak kasus korupsi, narkoba, intrik politik kepentingan golongan, sampai kasus yang menyangkut suku, agama, dan ras," ujar Jan yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Persaudaraan Cinta Tanah Air (PCTA) Indonesia menjelang peringatan HUT ke-6 organisasi itu di Jakarta, Kamis (17/3).

Ia juga menyatakan keprihatinannya bahwa rakyat setiap hari disuguhi berita dan tayangan televisi tentang kepala daerah yang menggunakan narkoba, munculnya gerakan Lesbian Gay Biseksual dan Transgender (LGBT), serta saling menjatuhkan di antara calon kepala daerah dengan unsur SARA.

"Bangsa kita tanpa sadar sudah dipecah belah oleh kepentingan tertentu sehingga peringatan bahwa cinta Tanah Air, menerima perbedaan dan jati diri bangsa menjadi amat penting untuk ditanamkan sejak dini," katanya.

Jan juga menilai kurikulum pendidikan nasional masih perlu dibenahi karena anak diajarkan hanya mengejar prestasi tanpa toleransi.

"Kurikulum pendidikan di jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Sekolah Dasar (SD) perlu diperkaya dengan penanaman cinta Tanah Air dan jiwa nasionalisme. Sistem pendidikan nasional saat ini belum secara utuh memadukan antara kecerdasan intelektual, religius, dan nasionalisme," tambahnya.

Untuk itu, pembenahan terhadap kurikulum di jenjang PAUD sampai SD menjadi sebuah kebutuhan yang mendesak untuk dilakukan. Sejak zaman kemerdekaan hingga saat ini, menurut dia, Indonesia masih mewarisi sistem pendidikan Belanda yang sekuler.

"Sistem pendidikan kita memisahkan antara kecerdasan spiritual, nasionalisme, dan intelektual secara jelas. Harusnya itu jadi satu kesatuan yang utuh," kata Jan.

Ditambahkannya, antara ketauhidan, keberagaman, kepancasilaan harus menjadi satu dan diperkuat di jenjang pendidikan dasar. Saat ini, tujuan pendidikan nasional masih berorientasi kepada dunia industri. Akibatnya, pendidikan nasional hanya mencetak sumber daya manusia yang berkarakter buruh, bukan calon pemimpin dan kader-kader penerus bangsa.

Sementara itu, Ketua Pelaksana HUT PCTA Indonesia Haryo Sumantri mengatakan bahwa tidak bisa lagi kita sibuk terperangkap perilaku yang meruntuhkan potensi bangsa di usia kemerdekaan RI yang sudah lebih dari 70 tahun saat ini. Semangat ini juga yang mendorong PCTA Indonesia menggelar sarasehan yang akan menghadirkan sejumlah pembicara seperti Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu, Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Rasyid Baswedan, dan mantan Menteri Negara Perumahan Rakyat Siswono Yudohusodo.

Sarasehan itu diselenggarakan sebagai bagian dari rangkaian kegiatan HUT ke-6 PCTA I yang akan digelar di Sasana Kriya, Taman Mini Indonesia Indah, pada 21 Maret. (Ant/OL-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya