Mengubah Persepsi lewat Keterbukaan

Mus/S-25
18/3/2016 03:00
Mengubah Persepsi lewat Keterbukaan
(DOK NEWMONT)

TAK kenal maka tak sayang. Peribahasa sederhana tersebut sampai kapan pun akan tetap relevan dan sesuai dengan berbagai kondisi, termasuk juga berlaku dalam dunia tambang.

Banyaknya informasi dan persepsi negatif dari masyarakat terkait aktivitas pertambangan yang sebagian besar karena kurangnya pemahaman masyarakat dan keterbatasan informasi yang diberikan oleh perusahaan tambang tentang apa yang dilakukannya.

Tidak banyak perusahaan tambang yang mau dan berani terbuka kepada masyarakat untuk menjelaskan mengenai aktivitas pertambangan termasuk dampak yang ditimbulkan akibat aktivitasnya tersebut.

Berbagai tudingan miring sering dialamatkan kepada perusahaan tambang, terutama pertanyaan seputar kontribusi yang diberikan perusahaan tambang kepada negara. Bukan cuma itu, mereka juga sering dianggap sebagai perusak lingkungan karena aktivitas pertambangan dianggap tidak dapat berdampingan dengan lingkungan hidup.

Tudingan miring tersebut salah satunya mengarah kepada PT Newmont Nusa Tenggara (PT NNT). Juru Bicara Newmont Rubi Purnomo ketika ditemui di Jakarta, Sabtu (12/3), secara gamblang menga takan tuduhan yang sering dialamatkan kepada Newmont antara lain terkait tuduhan pencemaran atau kerusakan lingkungan, yang sampai saat ini tidak pernah terbukti ataupun terjadi.

Berbagai upaya telah dilakukan Newmont sebagai bentuk transparansi terhadap pengelolaan tambang dan dampaknya terhadap lingkungan, termasuk melalui pengawasan dari pemerintah dan lembaga independen. “Upaya lainnya, PT NNT mengundang masyarakat umum untuk mengunjungi lokasi tambang Batu Hijau dan melihat secara langsung praktikpraktik penambangan terbaik yang telah dilakukan.”

Dengan melihat secara langsung, sambungnya, PT NNT ingin mengajak para peserta memberi penilaian objektif terkait kesesuaian persepsi yang ada di benak publik selama ini dengan realita yang ada di lapangan. “Program itu bernama Sustainable Mining Bootcamp (SMB) yang sudah berlangsung lima kali sejak 2011,” papar Rubi.

Peserta program SMB kelima itu berjumlah 26 orang ditambah beberapa peserta dari media, konsultan, dan lain-lain sehingga jumlah seluruhnya 37 orang. Mereka berasal dari berbagai latar belakang profesi dan memiliki semangat untuk membagikan pengalamannya di media sosial. Rangkaian kegiatan dilakukan mulai 14-22 Februari. Peserta tidak dipungut biaya dan juga tidak menerima imbalan.

“Seluruh peserta bisa melihat rangkaian proses tambang seluruhnya termasuk pemeliharaan lingkungan, hingga interaksi secara leluasa dengan masyarakat setempat dan menginap di rumah penduduk selama beberapa hari. Peserta bebas melihat dan bertanya hingga memberi masukan dan kritikan kepada perusahaan,” jelas Rubi.

Model percontohan
Salah satu peserta kegiatan SMB yang merupakan dosen komunikasi UGM Muhamad Sulhan mengatakan apa yang dilakukan oleh Newmont merupakan upaya cerdik dan dapat dijadikan model percontohan oleh perusahaan tambang lain untuk memberikan akses informasi yang terbuka.

“Sejujurnya, saya memandang aktivitas pertambangan sebagai sesuatu yang negatif. Saya tertarik mengikuti kegiatan ini karena ingin tahu lebih jauh aktivitas Newmont karena saya mencium ada aroma pencitraan di balik kegiatan ini. Selain karena saya menyukai riset dan traveling sehingga memutuskan untuk ikut serta,” ujarnya menceritakan alasan keikutsertaannya.

Namun, ia melihat ada yang membedakan apa yang dilakukan Newmont dengan upaya pencitraan pada umumnya. “Yang membedakan adalah akses informasi. Seluruh informasi diberikan secara gamblang dan terbuka kepada seluruh peserta. Sebenarnya itu berbahaya karena setiap orang memiliki daya tangkap yang berbeda-beda,” jelasnya.

Tetapi karena kegiatan ini sudah berjalan cukup lama, secara strategi komunikasi upaya yang dilakukan Newmont ini merupakan sesuatu yang diidamkan banyak perusahaan karena berhasil menciptakan komunitas yang menjadi pihak ketiga penyebaran informasi. “Informasi yang disebarkan akan menjadi objektif karena peserta tidak terlibat secara langsung dan tidak memiliki kepentingan dengan Newmont.”

Informasi yang diberikan secara sederhana mampu diterjemahkan secara beragam oleh peserta melalui tulisan. Akan tetapi, Sulhan mengakui bahwa apa yang dilakukan Newmont sebenarnya bukan suatu hal baru. “Tapi yang membedakan ada niat tulus Newmont dalam kegiatan ini. Sehingga akhirnya tercipta persahabatan dan komunikasi antarpeserta dan perusahaan tanpa ada batasan hirarki,” papar Sulhan.

Berdasarkan pengalaman empiris yang dirasakannya selama mengikuti SMB, diakuinya telah mengubah perspektifnya tentang tambang dan Newmont. Justru hal yang perlu dikritisi, ujarnya, adalah harus ada hasil lebih baik dari apa yang telah dilakukan Newmont selama ini.

Upaya yang telah dilakukan Newmont khususnya dalam pelestarian lingkungan dapat dijadikan standar baku yang dituangkan dalam bentuk regulasi oleh pemerintah untuk diikuti para perusahaan tambang lainnya.

“Newmont berani membuka informasi dan selama ini baikbaik saja. Baik buruk itu bukan perkara substansif, tapi perspektif. Antara substansif dan perspektif harus bisa berbanding lurus membentuk fakta sehingga tidak ada manipulasi. Jadi fakta harus diciptakan dan kemudian disebarkan. Kalau tidak begitu, Newmont juga tidak akan berani seterbuka ini. Karena Newmont berani terbuka, maka berarti ada yang ingin disampaikan dan ditonjolkan,” tuturnya.

Peserta SMB lainnya, Donna Imelda yang merupakan dosen teknik kimia di Universitas Jayabaya juga tidak beda dengan Sulhan. “Sebelumnya saya menganggap Newmont mengeruk emas Indonesia dengan menggunakan sumber daya asing untuk memproduksi emas batangan. Pengolahannya pun menggunakan zat kimia berbahaya, tailing hitam pekat, dan tidak memedulikan penduduk sekitar area tambang.”

Tetapi ternyata, lanjutnya, apa yang disaksikannya berbeda dengan anggapannya selama ini. “Yang ditambang ternyata tembaga dengan sedikit kandungan emas. Dan juga lebih banyak pekerja dan sumber daya lokal yang digunakan Newmont dengan persentase lebih dari 60%. Penggunaan bahan kimia yang tidak berbahaya dalam jumlah wajar”.

Selain itu, menurutnya, Newmont tidak hanya memanfaatkan hasil bumi, tetapi menggunakan pinjam pakai yang akan dikembalikan lahannya dalam bentuk manfaat lain. “Ada upaya Newmont untuk memperindah dan memperbaiki terumbu karangdengan menempatkan 1700 terumbu karang buatan di perairan se tempat yang telah rusak ka rena penangkapan ikan dengan pengeboman. Newmont juga memberdayakan masyarakat lokal melalui program yang memandirikan masyarakat, mengembangkan wisata lokal dan juga pemberdayaan tempat-tempat wisata,” tuturnya.

Pengakuan serupa juga dilontarkan peserta lainnya, Hendra Wardhana. Menurut blogger itu, keikutsertaannya di acara SMB telah mengubah persepsinya tentang perusahaan tambang.

Menurut Hendra, Newmont sudah berusaha bertindak etis pada lingkungan melalui program-program reklamasi dan lain sebagainya. “Saya sangat berkesan pada hal-hal yang sangat detail itu diperhatikan oleh Newmont. Menurut saya itu sudah merupakan langkah yang layak diapresiasi bagi Newmont karena telah bertindak etis pada lingkungan,”



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Vicky
Berita Lainnya