Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
KOMPOSISI pendidik yang masih didominasi guru perempuan (62,4%) mulai tingkat SD hingga SMA berdampak terhadap menurunnya minat anak laki-laki untuk melanjutkan sekolah. Itu dikhawatirkan memunculkan indikasi feminisme saat proses pembelajaran.
Demikian mengemuka pada diskusi pendidikan mengenai Kesetaraan gender dalam pendidikan, di Jakarta, kemarin (Rabu, 16/3).
Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Totok Suprayitno menjelaskan, berdasarkan data pokok pendidikan 2015, tercatat total guru perempuan pendidikan dasar dan menengah mencapai 1.634.847 orang. Jumlah itu lebih besar jika dibandingkan dengan jumlah guru laki-laki sebanyak 983.427 orang.
Di sisi lain, jumlah siswa laki-laki yang tadinya mendominasi saat SD dan SMP malah berbanding terbalik pada tingkat pendidikan selanjutnya. Siswa laki-laki di SMA hanya mencapai 1.966.351 siswa, lebih kecil daripada siswa perempuan yang mencapai 2.445.589 siswa.
Menurut Totok, banyak faktor yang menyebabkan anak laki-laki akhirnya tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. "Anak laki-laki itu memiliki pengaruh antisosial yang lebih besar ketika ada keberpihakan. Karena itu, guru mesti dibekali sensitivitas gender saat mengajar."
Dengan begitu, lanjut dia, proses pembelajaran di sekolah terutama di sekolah tingkat dasar bisa menghindari kesan yang hanya menguntungkan siswa perempuan. "Pendidikan harus adil bagi semua anak bangsa tanpa terkecuali."
Mengenai bekal pemahaman gender, menurut dia, itu bisa dilakukan guru tanpa perlu melalui pelatihan formal guru. Yang terpenting, guru bisa menumbuhkan kesadaran mendidik dengan cara-cara yang sesuai kebutuhan setiap anak.
"Intinya ialah kompetensi dasar. Guru yang ingin mengajar anak laki-laki dan perempuan dengan menggunakan ilustrasi harus paham lebih dahulu, dan bisa menyesuaikan setiap daerah lantaran tiap daerah memiliki konteks pemahaman yang berbeda-beda," ucap Totok.
Belajar aktif
Pada kesempatan sama, Kepala Biro Perencanaan Kerja Sama Luar Negeri Kemendikbud Suharti menyatakan hasil uji kompetensi guru tahun lalu menunjukkan performa guru perempuan lebih jelek ketimbang laki-laki.
"Performa guru perempuan paling baik di awal usia 30 tahun. Setelah itu ada faktor jenuh dan perasaan aman jadi biasanya menurun," ucap dia.
Di samping itu, guru perempuan kerap mendidik dengan cara verbal yang notabene sulit dipahami anak laki-laki. Anak laki-laki biasanya lebih menyukai belajar secara aktif seperti kegiatan-kegiatan di luar kelas. "Inilah yang perlu dipahami guru perempuan saat mengajar," ujarnya.
Sementara itu, Direktur Pembinaan SMP Kemendikbud Supriano menuturkan ke depan strategi pengarusutamaan gender juga akan diterapkan untuk mendorong minat belajar di sekolah. Apalagi saat ini masih ada 65 kabupaten/kota yang memiliki angka partisipasi kasar (APK) rendah.
"Nantinya, kami berusaha meyakinkan masyarakat mengenai pentingnya pendidikan. Untuk itu, kerja sama akan kami lakukan dengan darma wanita agar lebih mudah memahami perempuan," pungkasnya.(H-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved