Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
SAMPAI saat ini glaukoma masih menduduki peringkat kedua dunia sebagai penyebab kebutaan setelah katarak. Berbeda dengan kebutaan akibat katarak yang bisa dipulihkan dengan operasi, kebutaan akibat glaukoma bersifat permanen.
Namun demikian, glaukoma terjadi secara bertahap dan perjalanan penyakitnya bisa diperlambat. Karena itu, deteksi dan pengobatan dini sangat diperlukan agar fungsi penglihatan yang tersisa bisa dipertahankan lebih lama.
"Glaukoma beda dengan katarak. Penderita katarak bisa melihat kembali kalau dioperasi, sedangkan pengobatan glaukoma lebih bersifat mempertahankan (fungsi penglihatan) yang masih ada. Artinya, semakin cepat penyakit itu ditemukan dan diobati, hasilnya akan semakin baik," ujar dokter spesialis mata dr Delfi SpM (K) pada Sumatera Opthalmologist Meeting (SOM) ke-11 di Sumatra Utara (Sumut), Jumat (11/3).
Karena itu pula, lanjutnya, kegiatan yang diselenggarakan oleh Persatuan Dokter Ahli Mata (Perdami) Cabang Sumut bekerja sama dengan Departemen Kesehatan Mata Universitas Sumatera Utara (USU) di Medan, 10-13 Maret 2016 itu mengambil tema The sooner the better for glaukoma.
Kegiatan tersebut diikuti sekitar 260 peserta yang terdiri dari dokter umum, dokter yang sedang mengambil spesialisasi mata, dokter spesialis, dan subspesialis mata se-Indonesia.
Lebih lanjut, Delfi yang juga ketua panitia kegiatan itu menjelaskan glaukoma terjadi ketika tekanan di dalam mata meningkat akibat sirkulasi cairan mata terganggu. Tekanan yang melebihi normal itu merusak saraf-saraf penglihatan. Glaukoma ditandai, antara lain dengan menyempitnya lapang pandang mata.
Deteksi dini glaukoma bisa dilakukan dengan memeriksakan kesehatan mata ke dokter mata secara teratur. "Agar kalau ada tanda-tanda menuju glaukoma bisa dilakukan tindakan segera untuk mempertahankan fungsi penglihatan yang masih tersisa," imbuh Delfi yang juga Ketua Departemen Kesehatan Mata USU itu.(PS/H-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved