Menekan Kolesterol Jahat dengan Statin

Melati Yuniasari Fauziyah
16/3/2016 09:49
Menekan Kolesterol Jahat dengan Statin
(MI/Seno)

DATA Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 menunjukkan stroke merupakan penyebab kematian dan kecacatan utama di hampir seluruh rumah sakit di Indonesia. Laporan itu juga menunjukkan terjadi peningkatan prevalensi stroke di Indonesia, dari 8,3 per 1.000 penduduk pada 2007 menjadi 12,1 per 1.000 penduduk pada 2013.

Disebutkan, meningkatnya prevalensi stroke salah satunya disebabkan oleh sikap masyarakat yang kerap mengabaikan pentingnya pengendalian faktor risiko stroke.

Menurut dokter spesialis saraf yang juga Direktur Utama Rumah Sakit Pusat Otak Nasional, Mursyid Bustami, sebagian besar masyarakat beranggapan bahwa faktor risiko utama stroke ialah hipertensi saja. Padahal, ada faktor lain yang juga berperan utama, seperti tingginya kadar kolesterol jenis <>low density lipoprotein (LDL) atau sering juga disebut kolesterol jahat.

"Sudah banyak yang mengetahui bahwa kolesterol salah satu penyebab utama penyakit jantung. Namun, belum banyak yang menyadari bahwa kolesterol LDL yang dikenal sebagai kolesterol jahat juga salah satu faktor risiko utama penyebab stroke," ujar Mursyid dalam diskusi Pfizer Press Circle di Jakarta, Selasa (1/3).

Lebih lanjut Mursyid menjelaskan, stroke merupakan penyakit neurologi utama penyebab kecacatan terbanyak. Stroke terjadi akibat sumbatan pembuluh darah atau pendarahan di otak. "Sebagian besar stroke terjadi karena penyumbatan pembuluh darah.

"Bagaimana kolesterol jahat memicu stroke? Ia menjelaskan tingginya kadar LDL dalam darah menyebabkan terjadinya aterosklerosis, yakni menyempitnya pembuluh darah akibat menempelnya atau menyelipnya lemak di dinding pembuluh darah. Penyempitan yang bisa berkembang hingga menjadi penyumbatan itu mengakibatkan terganggunya aliran darah ke otak. Maka, timbullah stroke.

Mursyid mengungkapkan, pengendalian kadar LDL dapat dicapai dengan perubahan pola hidup ke arah hidup sehat dan terapi obat-obatan. Perubahan pola hidup sehat yang dianjurkan meliputi penurunan berat badan, banyak makan serat, konsumsi buah dan sayuran yang cukup, berhenti merokok, olahraga teratur, hindari stres, dan batasi konsumsi lemak berlebih.

"Jika target penurunan kolesterol belum juga tercapai dengan upaya pola hidup sehat, pasien dapat berkonsultasi ke dokter untuk memperoleh terapi obat," imbuh Mursyid.

Salah satu terapi obat yang direkomendasikan untuk menurunkan kadar kolesterol ialah golongan statin. Statin merupakan golongan obat yang jika digunakan bersamaan dengan pola hidup sehat dan olahraga akan membantu menurunkan LDL.

Pada beberapa studi klinis, seperti Collaborative Atorvastatin Diabetes Study (CARDS), penggunaan obat golongan statin dapat menurunkan risiko stroke sebesar 48% pada pasien diabetes yang belum pernah mengalami riwayat penyakit jantung koroner dan memiliki minimal satu faktor risiko kardiovaskular lainnya.

Memory loss
Meski manfaat penggunaan statin sudah dibuktikan melalui sejumlah penelitian ilmiah, ada masyarakat yang takut menggunakannya. Itu karena ada isu yang menyebutkan bahwa statin dapat menimbulkan penurunan kemampuan kognitif berupa hilang ingatan (memory loss) atau amnesia.

Isu itu didasari pemikiran bahwa otak merupakan organ yang paling banyak membutuhkan kolesterol. Ketika kolesterol ditekan, otak kekurangan zat tersebut.

Namun, beberapa hasil penelitian membantah isu itu. Seperti penelitian Swiger et al pada 2013 yang telah dipublikasikan dalam jurnal. Penelitian berjudul Statins and Cognition: A Systematic Review and Meta-analysis of Short-and Long-term Cognitive Effects itu menyatakan tidak ada hubungan antara penggunaan golongan obat statin dan terjadinya memory loss.

"Perlu juga untuk diketahui, LDL tinggi tidak hanya menjadi faktor risiko stroke atau penyakit kardiovaskular lainnya, tapi juga termasuk faktor risiko penyakit alzheimer yang menyebabkan penurunan kemampuan kognitif secara berangsur-angsur. Dengan demikian, pengendalian LDL dengan terapi obat golongan statin justru dapat mengurangi risiko penyakit itu," papar Mursyid.

Hingga saat ini, lanjutnya, belum ada studi penelitian yang dapat membuktikan berkurangnya lemak di massa otak menyebabkan memory loss.

"Setiap obat pada dasarnya mempunyai potensi menimbulkan efek samping. Golongan statin juga. Namun, sejauh ini manfaat dari statin dalam mencegah penyakit stroke dan penyakit kardiovaskular lainnya secara jelas telah terbukti dan tidak perlu diragukan lagi, tapi penggunaannya tentu harus benar," simpulnya.

Ia pun mengingatkan, pengendalian faktor risiko stroke perlu diperhatikan dengan sungguh-sungguh. Jika sudah terkena stroke, seseorang bakal membutuhkan biaya perawatan dan pengobatan tinggi dan waktu pemulihan yang lama, bahkan bisa mengalami kecacatan seumur hidup.

"Jangan tunggu sampai terjadi serangan stroke, lebih baik melakukan deteksi dini akan faktor risiko stroke dengan memeriksakan diri ke dokter," imbaunya. (H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Panji Arimurti
Berita Lainnya