Krisis Air Bersih Ancaman Serius

MI
15/3/2016 08:08
Krisis Air Bersih Ancaman Serius
(ANTARA/Maulana Surya)

KRISIS air bersih yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia termasuk Jakarta masih terus berlangsung. Data Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada 2012, mencatat, Indonesia masih berada di tempat terburuk dalam pelayanan ketersediaan air bersih dan layak konsumsi se-Asia Tenggara.

Hingga saat ini, berdasarkan data PDAM Jaya, Jakarta mengalami kekurangan air bersih sebanyak 9.100 liter per detik. "Ini masih menjadi masalah yang belum juga terselesaikan. Semakin padatnya jumlah penduduk di kota besar seperti Jakarta membuat krisis air semakin parah meskipun debit air sebenarnya tidak buruk," ungkap Manajer Produksi PT PAM JAYA, Mochamad Hatta Sukarno, di Jakarta, kemarin (Senin, 14/3).

Tidak hanya akibat terbatasnya akses, masalah air bersih, diungkapkan Hatta, juga terjadi akibat terus terjadinya penurunan kualitas sumber air. Endapan sampah yang terjadi mulai dari hulu sungai membuat terhambatnya aliran air yang ada. Kondisi tersebut juga diperparah dengan situasi iklim dan musim yang tidak menentu.

Untuk menanggulangi ke-terbatasan pasokan air bersih, saat ini semakin banyak warga memilih menggunakan air tanah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Padahal, tanpa banyak diketahui warga, kondisi skema sanitasi Indonesia yang masih buruk hingga saat ini membuat air tanah berpotensi mengandung berbagai bakteri berbahaya.

Data dari Bidang Pelesta-rian dan Tata Lingkungan, Badan Pengelolaan Lingkung-an Hidup Daerah (BPLHD) Jakarta pada 2015, misalnya menyebutkan sekitar 90% air tanah di DKI Jakarta mengandung bakteri e-coli dan sudah termasuk kategori mengkhawatirkan.

Hal tersebut disebabkan baru 3% warga Jakarta yang dilayani intalansi pengelolaan air limbah (IPAL), sedangkan 97% lainnya masih menggunakan septic tank dan membuat air tanah menjadi tercemar air limbah.

"Memang ini menjadi masalah, yang tidak hanya di Jakarta, tetapi juga mencerminkan banyak daerah lain di Indonesia. Harus dilakukan langkah cepat paling tidak program jangka pendek untuk membenahinya," ungkap Ahli Tata Air dan Master Meter, Taufiqurrohman, di kesempatan yang sama.

Menurut Taufiq, dibutuhkan langkah secara swadaya, baik dari pemerintah maupun masyarakat untuk dapat memenuhi kebutuhan akan air bersih.(Pro/H-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Panji Arimurti
Berita Lainnya