Sosialisasi SNMPTN Perlu Diperbaiki

Melati Yuniasari Fauziah
13/3/2016 08:15
Sosialisasi SNMPTN Perlu Diperbaiki
(ANTARA/Sahrul Manda Tikupadang)

Hingga tadi malam target siswa yang mendaftar SNMPTN belum terpenuhi.

PENDAFTARAN seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNMPTN) 2016 secara resmi ditutup tadi malam. Hingga sore kemarin, dari 1.363.051 siswa yang ditargetkan, baru 641.296 siswa yang mendaftar. Dari jumlah itu, baru 624.931 siswa yang melakukan finalisasi.

Ketua SNMPTN 2016 Rochmat Wahab mengatakan itu artinya masih ada sekitar 20.000 siswa yang belum melakukan finalisasi. "Sampai saat ini masih banyak yang mendaftar, angkanya sudah melebih 600 dan masih ada 20.000 siswa lainnya yang belum finalisasi,'' ujarnya saat dihubungi, kemarin sore.

SNMPTN merupakan salah satu cara menjaring siswa untuk menempuh pendidikan di perguruan tinggi negeri (PTN). Jalur semacam ini mirip dengan PMDK (penelusuran minat dan kemampuan) pada dekade 80-an. SNMPTN merupakan seleksi yang dilakukan PTN masing-masing di bawah koordinasi panitia nasional dengan seleksi berdasarkan hasil penelusuran prestasi akademik calon mahasiswa. Pihak sekolah mendaftarkan siswa mereka yang memenuhi syarat ikut SNMPTN ini. Syaratnya antara lain berdasarkan nilai rapot, nilai ujian nasional, dan prestasi akademis lainnya selama di SMA. Tahun ini, dari 14.156 sekolah, hanya 1.363.051 siswa yang berhak mendaftar. Namun, hingga kemarin belum semuanya mendaftarkan diri.

Hal ini kemungkinan disebabkan beberapa faktor. Pihak sekolah mengaku kesulitan mengawal siswa yang ingin mengikuti proses SNMPTN sejak awal hingga verifikasi pangkalan data sekolah dan siswa (PDSS) tuntas. Formulir penilaian ini semestinya diisi oleh sekolah dan siswa bisa memverifikasinya jika keberatan dengan penilaian itu.

"Pada pengisian PDSS semua diserahkan kepada siswa. Sekolah tidak bisa melihat apakah siswa sudah melakukan finalisasi atau belum. Jadi, kami tidak bisa memantau," kata Yeni Suryani, guru bimbingan dan konseling SMAN 112 Jakarta beberapa hari lalu.

Kesulitan lain pengisian PDSS ini karena ada perbedaan tata cara dibanding tahun sebelumnya. Tahun ini pengelompokan data siswa lulusan bukan berdasarkan kelas, melainkan pada abjad secara keseluruhan.

"Jadi, guru tak bisa melihat daftar nilai siswa setiap kelas. Guru harus melihat setiap anak berdasarkan abjad. Tentu ini menyita waktu," jelas Yeni.

Rochmat menyatakan, untuk SNMPTN tahun depan, sosialisasi kepada dinas pendidikan dan kepala sekolah harus semakin ditingkatkan sehingga kesempatan yang dimiliki siswa tidak disia-siakan. "Dari panitia sudah semaksimal mungkin, kami juga sudah melakukan sosialisasi dengan mengundang kepala sekolah dari berbagai wilayah untuk diberikan penjelasan mengenai mekanisme SNMPTN tahun ini."

Diskriminatif

Pengamat pendidikan Darmaningtyas mengungkapkan kuota siswa masuk PTN lewat jalur SNMPTN tahun ini menurun dari 50% menjadi 40%. Sementara itu, kuota lewat jalur seleksi bersama masuk perguruan tinggi negeri (SBMPTN) hanya 30%, sedangkan seleksi mandiri perguruan tinggi negeri (SMPTN) justru naik menjadi 30% dari yang sebelumnya cuma 20%.

"Ini kan diskriminatif. Jatah kaum miskin hanya sebesar jatah untuk Bidikmisi, yang 30% kuota untuk SBMPTN tidak bisa dikatakan untuk kaum miskin karena kuota itu terbuka bebas untuk golongan mana pun," terangnya. (I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya