Jakarta Setelah Seabad Sumpah Pemuda

Fetry Wuryasti
12/3/2016 18:04
Jakarta Setelah Seabad Sumpah Pemuda
(Ilustrasi)

PADA 2028 nanti, Indonesia berada pada modernisasi yang pesat. Perkembangan teknologi dan budaya asing kian bebas merasuk. Sementara segala hal menyangkut budaya Indonesia telah tereliminasi karena dianggap menghambat kemajuan.

Di 2028 nanti, Indonesia menjadi negara dystopia, nilai internasional lebih bermakna ketimbang identitas luhur Nusantara. Tidak ada lagi yang mengenal sejarah, bahasa, dan adat istiadat bangsanya.

Seperti itu lah kira-kira penggambaran situasi Indonesia di masa depan yang digambarkan dalam drama musikal 'Sumpah 100 Tahun' dengan konsep cerita yang mengandung unsur edukatif. Sebuah drama dan komedi satir tentang pudarnya kecintaan terhadap bangsa Indonesia.

"Selamat datang di Jakarta, kota tanpa identitas, tanpa tidur, dan menyajikan segalanya yang Anda inginkan," ujar pemeran utama, Brian Adiwinata, yang diperankan oleh Fendy Chow.

Cerita yang diproduseri Arswendo Atmowiloto dan Lukman Sardi itu dimulai dengan penemuan kotak usang oleh Brian. Kotak itu berisi foto-foto kenangan Sumpah Pemuda 1928. Berawal dari ide dokumenter kampus, proyek kelompoknya, Tim Jong menjadi fenomena sosial, berskala nasional yang berhasil menyadarkan kaum muda Indonesia akan pentingnya nilai-nilai kebangsaan.

Merasa otoritasnya terancam, Mr President Indonesia pada 2028, menggunakan kekuatan media dan pengaruhnya menggagalkan propaganda Tim Jong. Sebab, pemerintah ingin mengubah Republik Indonesia menjadi United State of Indonesia. Negara Mendaulat Tim Jong sebagai antipemerintah yang ingin mengudeta pemerintah. Akibatnya, mereka terpaksa hidup dalam persembunyian.

Tim Jong memanfaatkan momentum peristiwa internasional sebagai titik balik perjuangan. Untuk mengetahuinya, penampilan teater ini masih dipentaskan di Ciputra Artpreneur Theatre, masing-masing selama sekitar 200 menit, pada Sabtu (12/3)pukul 15.00 dan 20.00 WIB, serta Minggu (13/3) besok pukul 13.00 dan 18.00 WIB. Tiket dapat dipesan melalui www.kiostix.com/sumpah-100.

Produser eksekutif 'Musikal Sumpah 100 Tahun', Lukman Sardi, mengatakan teater ini wajib disaksikan oleh masyarakat. Kisahnya akan mengingatkan penonton untuk kembali bersama menjunjung jati diri perjuangan bangsa Indonesia.

"Jati diri perjuangan bangsa Indonesia pernah dilakukan oleh para pejuang. Sekarang bagian kita untuk mendukung muda-mudi sebagai masa depan bangsa Indonesia, yang saat ini tengah menuangkan rasa cinta terhadap Indonesia," tuturnya. (Try/OL-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya