Pemberitaan Media Massa Belum Sensitif Gender

Cornelius Eko Susanto
08/3/2016 22:33
Pemberitaan Media Massa Belum Sensitif Gender
(MI/Panca Syurkani)

SEBAGIAN media massa di Indonesia cenderung belum sensitif gender. Hal itu terlihat dari pemberitaan media yang masih bias gender, khususnya yang terkait dengan konten yang menampilkan representasi perempuan.

Hal itu disampaikan Direktur Pemberitaan Media Indonesia Usman Kansong, pada seminar Jurnalisme Sensitif Gender, di Jakarta, Selasa (8/7). Belum sensitif gendernya media massa kita, lanjut Usman, tergambar dari hasil riset Komnas Perempuan terhadap konten 10 media cetak edisi Januari-Juni 2015.

Hasilnya, Komnas banyak menemukan media yang mengabaikan kode etik dalam pemberitaan tentang kekerasan seksual pada perempuan. Pelanggaran kode etik itu meliputi pengungkapan identitas korban, mencampuradukan fakta dan opini, mengungkapkan identitas pelaku anak, serta menerbitkan pemberitaan yang mengandung informasi cabul dan sadistis.

Menurut Usman, temuan Komnas Perempuan tersebut adalah memang realitas yang terjadi di dunia jurnalistik kita. Dia mencontohkan, koran lokal dan koran kriminal sering memberitakan kasus perkosaan perempuan secara cabul dan sadistis.

Hal itu ditandai dengan pemilihan kosakata masih berorientasi seksual, seperti “dipaksa melayani nafsu”, “bertubuh molek”, “menggagahi” dan sebagainya.

“Kasus perkosaan ditulis secara vulgar, seolah-olah itu suatu hiburan,” kata Usman.

Bahkan dalam kasus seperti ini, perempuan juga sering digambarkan sebagai sosok yang seolah ikut andil sehingga meyebabkan kasus itu terjadi, bukan murni sebagai korban kejahatan kaum laki-laki.

Pada media massa mainstream, pelanggaran kode etik dan penulisan/penggambaran memang tidak sevulgar koran daerah atau kriminal. Namun, pada iklan, citra pemberitaan dan sebagainya, kondisi perempuan masih dianggap sebagai komoditas, dengan visualisasi dan identifikasi tubuh seperti molek, seronok, seksi, dan sejenisnya.

Dari sejumlah paparan tersebut, Usman menyimpulkan bahwa masih belum sensitifnya media massa pada masalah gender disebabkan oleh dua sebab. Pertama adalah belum sadarnya wartawan pada masalah gender dan kedua adalah media sebagai institusi ekonomi akhirnya terpaksa mengikuti selera pasar.

Berkenaan dengan masalah kesadaran, solusi mengatasinya, kata jelas Usman, adalah dengan pengembangan kesadaran gender pada wartawan, melalui sejumlah pelatihan.

Sedangkan terkait sisi media sebagai industri yang mengikuti selera pasar, Usman mengatakan bahwa, media harus bisa membentuk selera pasar sendiri. “Selera pasar itu bisa dibentuk,” tandas dia.

Dia mencontohkan, dahulu orang memandang sebelah mata dibentuknya stasiun televisi berita. Pasalnya, selera pasar Indonesia adalah acara hiburan, dan bukan berita. Namun, setelah berjalan belasan tahun, Metro TV berhasil membentuk selera menonton yang baru. Bahkan pengiklan saat ini, juga mau mengikuti gaya dari selera yang diciptakan oleh televisi berita pertama di Indonesia itu.

Senada dengan Usman, Deputi Partisipasi Masyarakat Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Agustina Emi menambahkan, pemberitaan yang tidak sensitif gender seolah-olah dapat semakin mengecilkan peran perempuan.

"Posisi perempuan semakin dikerdilkan di masyarakat akibat pemberitaan yang diskriminatif,” sesalnya.

Selain menolak pemberitaan yang diskriminatif, Agustina meminta agar media semakin banyak memberitakan perempuan-perempuan yang berhasil. Hal ini dapat meningkatkan percaya diri wanita Indonesia untuk berkembang. (OL-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Widhoroso
Berita Lainnya