Bule pun Turut Beradu Nyali di Peresean

Eko Rachmawanto
25/2/2016 14:09
Bule pun Turut Beradu Nyali di Peresean
(ILUSTRASI--MI/Sulistiono)

PUNCAK tradisi Bau Nyale (menangkap cacing laut) di Lombok, baru digelar 27-28 Februari 2016 mendatang. Tapi gelegarnya sudah mulai terasa saat ini. Rangkaian perhelatan seni ada ketangkasan Peresean yang digelar selama empat hari, 23-26 Februari 2016. Lokasi yang dipilih, Pantai Kuta, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah (Loteng). Bule pun ikutan adu nyali di even adu ketangkasan ini.

Ya, tradisi Peresan ini memang banyak diminati turis-turis bule. Dengan bertelanjang dada. Bule-bule yang datang berwisata tak ragu menggunakan pecutan atau rotan untuk adu pukul dengan lawannya. Bule-bule ini menggunakan perisai sebagai pelindung yang terbuat dari kulit kerbau tebal. Mirip-mirip seperti gladiator di Italia.

"Banyak bule yang tertantang untuk ambil bagian memeriahkan Peresean. Semua senang meski setelah itu badannya memar," ungkap Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) NTB Muhammad Faozal.

Dari paparan Faozal, bule-bule yang ambil bagian ini datang dari berbagai negara. Ada yang dari Kanada, Selandia Baru, Australia hingga Inggris. Semua bangga saat didandani seperti Pepadu – sebutan untuk petarung Peresean. “Sebelum bertanding bule-bule yang hadir juga ikut berjoget. Saat gending ditabuh makin kencang, gerakan-gerakan menari mereka mirip Pepadu yang sedang saling mengejek. Atraksinya ini banyak mengundang perhatian yang ada di Pantai Kuta,” tambahnya.

Walaupun penuh dengan unsur kekerasan, Peresean tetap akan dilestarikan Pemprov NTB. Alasannya simpel. Di balik kekerasan tadi, ada tujuan untuk silaturahmi, persahabatan dan sportifitas. Para pepadu tidak menaruh dendam di luar pertarungan karena filosofi dari tradisi ini yaitu bukan mencari lawan, melainkan mencari teman atau saudara.

"Ini jadi daya tarik yang luar biasa bagi wisatawan. Kegiatan-kegiatan seni dan budaya seperti ini, akan dilaksanakan secara kontinyu," ungkapnya.

Sementara di Pantai Kuta, tempatnya lebih luas. Para wisatawan yang menginap bisa langsung menonton. Cukup jalan kaki. Wisatawan mancanegara maupun wisatawan nusantara yang kebetulan liburan ke Pantai Kuta juga bisa menyaksikan. “Ini yang kita harapkan, para wisatawan terhibur dan merasakan peresean. Dan yang lebih penting lagi, hotel-hotel penuh, pariwisatanya pun hidup,” papar Faozal.(P-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Panji Arimurti
Berita Lainnya