Pendidikan Islam masih Alami Ketimpangan

Syarief Oebaidillah
25/2/2016 07:15
Pendidikan Islam masih Alami Ketimpangan
(Wakil Ketua Dewan Pertimbangan MUI, Nasaruddin Umar -- MI/GRADYOS ZAFNA)

WAKIL Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nasaruddin Umar menyatakan masih ada ketidakadilan dalam sistem pendidikan Islam di Indonesia.

Dia mencontohkan tak sedikit madrasah yang gulung tikar karena tidak cukup memiliki biaya operasional untuk menggaji guru, merawat gedung, dan lainnya karena hanya mengandalkan biaya peserta didik dan bantuan pemerintah.

"Seharusnya, pemerintah menjamin berlakunya keadilan terkait dengan masalah sarana prasarana dan kesejahteraan guru-guru pendidikan Islam," ujar Nasaruddin pada diskusi Revitalisasi pendidikan Islam di Kantor MUI, Jakarta, Rabu (23/2).

Selain itu, lanjut dia, lembaga pendidikan Islam harus memperkuat kemandirian lewat kerja sama dengan instansi nonpemerintah seperti berupa kegiatan corporate social responsibility perusahaan dan mendirikan usaha unit sekolah.

Senada dengan itu, Ketua Dewan Pertimbangan MUI Din Syamsuddin menilai pendidikan Islam belum tampil maksimal jadi sarana sumber daya insani untuk umat dan bangsa serta berkarakter.

"Kecenderungan pendidikan Islam belum menyentuh nilai sejati dari pendidikan. Ada yang maju, tapi belum menuju pendidikan dengan nilai watak pendidikan. Masih banyak guru berperan transfer ilmu dari otak guru ke otak murid, tetapi belum pada penanaman nilai dan watak, yang disebut karakter atau akhlak. Itu harus didorong," kata Din.

Pada kesempatan sama, perwakilan PP Muhammadiyah Sudarnoto mengingatkan perlunya revitalisasi dalam kurikulum pendidikan Islam terkait dengan ancaman ideologi radikal. "Kita butuh revitalisasi kurikulum pendidikan Islam yang tetap berlandaskan Pancasila."

Sementara itu, Imam Tolhah dari Gabungan Usaha Penyelenggara Pendidikan Islam menambahkan, pendidikan Islam dinilai gagal dalam pembinaan umat. Itu terbukti dengan maraknya kasus kekerasan, pelecehan, kriminalitas, kolusi, dan nepotisme yang justru melibatkan kalangan terpelajar dan umat Islam. "Ini mungkin terjadi karena gagap atas kemajuan iptek dan gagal menyejahterakan umat Islam." (Bay/H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Panji Arimurti
Berita Lainnya