MM-CSR Trisakti untuk Hasil Kepedulian Maksimal

*/S-2
25/2/2016 02:15
MM-CSR Trisakti untuk Hasil Kepedulian Maksimal
(DOK. MM CSR TRISAKTI)

PROGRAM kepedulian sosial atau corporate social responsibility (CSR) sudah menjadi bagian penting dalam menjalankan usaha.

Berbagai aksi CSR dilakukan banyak korporasi. Namun, aksi tersebut banyak yang hasilnya tidak maksimal.

Hal itulah yang menjadi landasan terbentuknya program studi Magister Manajemen Corporate Social Responsibility (MM-CSR) Trisakti, pada 2007.

Founding Director of MM-CSR Trisakti Maria Rosaline Nindita Radyati merupakan perintis berdirinya Program Studi MM-CSR Trisakti sejak 2006.

Ketika itu, ia dipercaya mengelola dana hibah Ford Foundation yang bernaung di bawah lembaga Center for Entrepreneurship Change and Third Sector (CECT) di Universiat Trisakti (Usakti) Jakarta, yang dipimpinnya sejak 2001.

Saat itu, dirinya sedang menjalani studi S-3 di Australia.

Nita melakukan riset kegiatan CSR di Indonesia. Hasilnya menyebutkan sebagian besar kegiatan CSR lebih pada bentuk filantropi. Padahal, kegiatan CSR bisa berdampak positif bagi pembangunan.

"Riset ini saya lakukan untuk mengetahui kegiatan CSR mana yang sudah dan yang belum dilakukan di Indonesia. Jadi, yang dicari itu gap dari yang sudah dan belum dilakukan tadi. Sebagai akademisi, kita harus cari sesuatu yang bisa mengisi gap tersebut," jelas Nita kepada Media Indonesia di Jakarta, kemarin.

Hasil riset tersebut menjadi dasar terbentuknya MM-CSR Trisakti. Ia pun membuat kurikulum dengan dibantu teman-temannya.

Kurikulum berupa CSR tools tersebut bertujuan memandu menyelesaikan berbagai permasalahan terkait dengan CSR berdasarkan teori ISO 26000.

Melalui panduan tersebut, kegiatan CSR yang dilaksanakan diharapkan memberikan hasil maksimal.

ISO 26000 merupakan standar pedoman mengenai tanggung jawab sosial.

"Setelah kurikulum beres, pada 2007 dana hibah yang diberikan oleh Ford Foundation pun turun sebesar US$350 ribu. Saya minta persetujuan dari pihak Rektorat Univesitas Trisakti untuk membuat program studi MM-CSR Trisakti ini. Persetujuan dan dukungan sudah didapat, pada 2008 dibukalah pendaftaran untuk MM-CSR Trisakti. Angkatan pertama MM-CSR Trisakti ini terdiri dari 22 orang mahasiswa," jelasnya.

Kurikulum di MM-CSR Trtisakti bisa dibilang pracademic atau practical academic.

"Di mana perkuliahan di sini selain materi ada juga praktiknya. Untuk menunjang kurikulum tersebut, dosen yang mengajar di MM-CSR Trisakti ialah pengajar tetap dan pengajar tidak tetap. Pengajar tidak tetap di MM-CSR Trisakti biasanya praktisi. Tidak jarang juga ada dosen tamu dari luar yang didatangkan ke kampus ini," tambah Nita.

Ia mengutarakan hingga saat ini, total angkatan yang ada di MM-CSR Trisakti ada 17 angkatan.

"Tiap angkatan beragam peminatnya, paling sedikit 12 mahasiswa dan paling banyak 27 mahasiswa. Rata-rata tiap tahunnya sekitar 15-16 mahasiswa dalam satu kelasnya," ujar Nita.

Dalam setahun, MM-CSR Trisakti melakukan dua kali penerimaan mahasiswa baru, yaitu pada April dan September.

Mahasiswa MM-CSR Trisakti rata-rata sudah bekerja di level manajerial, seperti komisaris, CEO, atau pemilik perusahaan.

"Jarang ada mahasiswa yang melanjutkan S-1 langsung ke sini."

Semua untung

Ketua Komisi CSR Nasional La Tofi menilai pendidikan CSR sangat penting untuk mendapatkan hasil maksimal dari kegiatan kepedulian sosial yang dijalankan perusahaan.

"Pendidikan CSR terhadap masyarakat, perusahaan, dan pemerintah sangat penting. Ketiga pemangku kepentingan utama ini memainkan peranan yang sama dalam menentukan masa depan CSR di Indonesia," ujar La Tofi.

Ia mengutarakan kegiatan CSR yang benar bisa berdampak bagi percepatan pembangunan.

"Semua harus untung dalam kolaborasi ini sehingga tidak ada alasan bahwa CSR itu sebagai beban. Sekali lagi, pendidikan CSR bagi perusahaan, pemerintah, dan masyarakat sangatlah penting saat ini. Apalagi dalam situasi pelambatan ekonomi sekarang. Semua pihak harus berkolaborasi menciptakan nilai tambah dalam kehidupan," tutup pria yang juga menjabat Chairman of the La Tofi School of CSR ini.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya