Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
PELAKSANAAN seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNMPTN) atau seleksi bersama masuk PTN (SBMPTN) 2015 lalu menjadi gambaran program studi (prodi) favorit di Indonesia. Seperti hasil SBMPTN 2015, misalnya dari 693.185 peminat, 99.223 yang diterima, tersebar di 74 perguruan tinggi negeri. Prodi yang diserbu, yakni informatika, komputer, kedokteran, komunikasi, psikologi, akuntansi, manajemen, dan hukum. Masihkah prodi-prodi itu difavoritkan calon mahasiswa pada tahun ini?
Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristek Dikti) M Nasir mengakui jurusan atau prodi sosial memang masih menjadi pilihan utama bagi sebagian besar calon mahasiswa. Namun, mengikuti arah kebijakan Presiden Joko Widodo yang memfokuskan pada pembangunan infrastruktur, jurusan teknik sipil dan elektro diperkirakan bakal mengalami peningkatan yang signifikan.
“Saya pikir prodi teknik ini memang sesuai dengan arah pembangunan ekonomi kita ke depan. Jadi, tren favoritnya bisa jadi yang mengikuti ke sana,” ujar Nasir saat dihubungi Media Indonesia, kemarin.
Seiring berkembangnya pembangunan infrastruktur di Tanah Air, lanjutnya, peluang kerja di bidang teknik juga semakin terbuka lebar. Itu sebabnya, masyarakat cenderung memilih jurusan teknik ketimbang jurusan favorit lain.
Ditambah lagi, jelas Nasir, Indonesia sudah harus siap menghadapi persaingan masyarakat ekonomi ASEAN (MEA). Untuk itu, perlu ada penyesuaian antara kebutuhan dan ketersediaan tenaga kerja di dalam negeri.
“Kami akan terus dorong agar prodi-prodi yang sekiranya banyak dibutuhkan untuk diperluas. Misalnya, di bidang engineering dan science,” ungkap mantan Rektor Universitas Diponegoro itu.
Apalagi, sambung Nasir, profesi insinyur atau lulusan bergelar sarjana teknik termasuk salah satu profesi yang akan ikut bersaing dalam MEA. Selain insinyur, profesi lainnya yang akan bersaing di MEA, di antaranya arsitek, tenaga pariwisata, akuntan, dokter gigi, tenaga survei, praktisi medis, dan perawat.
Menurut Nasir, jurusan peternakan dan perikanan juga bisa menjadi alternatif pilihan yang sangat potensial di masa depan. Mengingat program Nawa Cita jelas menyebutkan masalah ketahanan pangan harus menjadi prioritas. “Ini pun prospeknya kalau dilihat sangat bagus. Kita ajak perguruan tinggi untuk lebih mengembangkan prodi-prodi tersebut,” tandasnya.

Penguatan program
Dihubungi secara terpisah, Direktur Pengembangan Kelembagaan Dikti Ridwan menuturkan pihaknya sedang merancang program profesi insinyur. Hal itu guna membantu para lulusan sarjana teknik agar dapat lebih diakui profesionalitasnya.
“Sekarang masih dirancang. Rencananya September tahun ini sudah selesai, jadi lulusan sarjana teknik nantinya kalau mau bersaing di MEA bisa lebih diakui,” ucap dia.
Program Profesi Insinyur (PPI), terangnya, dilakukan pascalulus sebagai sarjana teknik dari perguruan tinggi mana pun. Selama satu tahun, para peserta akan dibekali keahlian di bidang teknik secara lebih profesional.
Selain melalui jalur PPI, untuk mendapatkan sertifikat profesi yang sama juga bisa dengan jalur pengakuan pembelajaran lampau. Artinya, peserta cukup memberikan portofolio yang selanjutnya akan melewati tahap assessment.
“Kami memandang hal itu perlu dilakukan agar insinyur kita lebih profesional, meski bukan berarti sarjana teknik kita tidak diakui,” tukasnya.
Hal senada diungkapkan pengamat pendidikan Doni Koesoema. Ia menekankan perlunya pembekalan bagi para calon sarjana agar tidak sekadar lulus dengan modal ilmu dan kemampuan yang pas-pasan.
Pasalnya, untuk bisa bersaing dengan tenaga asing, tidak lagi berada di level bawah tetapi sudah setingkat manajer dan pimpinan. Kondisi demikian tidak hanya berlaku untuk profesi insinyur, tetapi juga beragam profesi lain terutama di bidang sains, teknologi, dan komunikasi digital.
“Kita harus melek perkembangan zaman. Seperti di bidang kesehatan, jurusan nursing di kita sudah jauh lebih maju, tidak kalah dengan Australia. Yang masih kurang itu di bidang hospitality, padahal peluangnya besar,” pungkas Doni. (S-1)
puput.mutiara@mediaindonesia.com
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved