Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
BADAN Tenaga Nuklir Nasional (Batan) merencanakan pembangunan reaktor daya eksperimental (RDE) yang nantinya akan diujicoba menggunakan bahan bakar thorium. Bahan yang termasuk unsur radioaktif tersebut dinilai memiliki prospek energi untuk masa depan.
Kepala Batan Djarot Sulistio mengatakan Indonesia menyimpan cadangan thorium yakni di Pulau Bangka, Bangka Belitung. Di sana, potensi cadangan thorium mencapai sekitar 121.500 ton.
"Di Indonesia dan di berbagai negara belahan dunia, kandungan thorium lebih banyak 3-4 kali ketimbang uranium. Hal ini menyebabkan sebagian orang beranggapan bahwa thorium lebih mempunyai prospek di masa depan," ungkap Djarot melalui siaran persnya, Minggu (21/2).
Menurut dia, thorium memiliki beberapa keunggulan ketimbang uranuim yang merupakan bahan bakar pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN). Djarot menjelaskan 90% bahan bakar thorium akan bereaksi menghasilkan listrik jika dibandingkan dengan uranium yang hanya 3-5 %, sehingga akan menghasilkan limbah radioaktif yang jauh lebih kecil.
Pembangkit Listrik Tenaga Thorium (PLTT) juga dinilai tidak menghasilkan plutonium pada proses reaksi nuklirnya, sehingga dapat menjamin tidak disalahgunakan untuk tujuan persenjataan.
"Reaktor PLTT bekerja pada tekanan normal (1 atm), sehingga tidak membutuhkan struktur pelindung yang kuat seperti halnya pada PLTN yang tekanannya sekitar 144 atm. PLTT juga bekerja pada temperatur yang lebih rendah dari PLTN, sehingga konversi panasnya menjadi listrik jauh lebih besar," ucap Djarot.
Djarot membeberkan beberapa negara sudah mengembangkan PLTT, yakni Amerika Serikat dan Jerman. Jepang dan Tiongkok pun dinilainya sudah ikut mengembangkan PLTT. Meski negara-negara tersebut sudah mengembangkan thorium, belum ada PLTT secara komersial yang beroperasi. Djarot menyadari pemanfaatan thorium untuk PLTT secara komersial butuh waktu yang lama, termasuk di Tanah Air.
"Masih butuh beberapa dekade sampai PLTN berbasis thorium terwujud. Yang harus dibangun adalah infrastruktur pendukung, termasuk bagaimana melakukan fabrikasi serta siklus daur bahan bakarnya. Tugas BATAN adalah meneliti, dan mengkaji kegiatan tersebut. Bahkan RDE dapat menjadi jembatan penelitian thorium, sebelum implementasi secara komersial," paparnya. (OL-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved