Waspadai Maraknya Promosi LGBT

Cornelius Eko Susanto
16/2/2016 21:13
Waspadai Maraknya Promosi LGBT
(MI/Galih Pradipta)

MENTERI Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PP-PA) Yohana Yembise menolak segala bentuk kampanye yang mempromosikan fenomena LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender). Bentuk promosi LGBT dinilai rentan diduplikasi oleh anak dan remaja.

"Kita tidak boleh mendiskriminasi LGBT. Tetapi kegiatan promosi mereka rentan ditiru anak-anak. Perilaku menyimpang seharusnya tidak boleh dipromosikan," sebut Yohana, Selasa (16/2).

Yohana mengatakan, berdasarkan pengamatan, kegiatan promosi yang dilakukan kaum LGBT saat ini semakin terbuka dan gencar. Promosi itu dilakukan lewat berbagai sarana, mulai dalam bentuk seminar, situs-situs di ineternet, bahkan media massa.

Menurut Menteri PP-PA, keberadaan LGBT tidak terlepas dari penetrasi dan pengaruh nilai-nilai asing ke Indonesia. Ironisnya, fenomena ini sudah menyebar ke kalangan anak-anak yang banyak mendapat informasi dari media sosial.

Karena itu, Yohanan berharap semua pihak mau bekerjasama untuk menghentikan berbagai bentuk kampanye/promosi terkait LGBT, baik melalui media sosial atau buku-buku bacaan demi melindungi masa depan anak-anak Indonesia.

Berkenaan dengan semakin genjarnya promosi LGBT dan demi melindungi masa depan anak-anak, KPP-PA telah melakukan kerja sama dengan 23 organisasi keagamaan dari 6 agama yang diakui secara resmi di Indonesia.

Adapun kegiatan yang dilakukan seperti, kegiatan sosialisasi dan pendampingan untuk meningkatkan pemahaman keluarga tentang LGBT. Dengan demikian keluarga dapat mengidentifikasi anaknya yang ada kecenderungan salah satu dari LGBT secara dini.

Selain itu, di sektor pendidikan, juga diberi peran mengenali, melindungi, dan mengembangkan anak didik yang berpotensi LGBT agar mau dan mampu menyelesaikan pendidikan dengan baik. Sehingga pada akhirnya kelompok LGBT mampu memposisikan diri dalam masyarakat secara elegan, melalui peningkatan kapasitas diri dan status sosial untuk mengurangi stigmatisasi dari masyarakat.

Kegiatan terakhir, lanjut Yohana, kelompok LGBT perlu dibina dan dibimbing supaya memahami bahwa mereka adalah memiliki perilaku yang tidak sesuai dengan ajaran agama dan adat-istiadat di Indonesia, serta meluruskan orientasi seksual dan perilaku yang salah karena Indonesia adalah negara yang religius, penuh adat-istiadat, dan etika.

Sementara itu, Guru Besar Sosiologi Universitas Indonesia, Prof. Paulus Wirutomo mengatakan, fenomena LGBT adalah munculnya kultur baru dalam budaya konvensional kita. Sebagaiman lahirnya budaya baru, hal ini pasti akan menimbulkan gesekan dengan nilai-nilai/idiologi sebelumnya.

Andaikata budaya/idiologi itu bersifat negatif, selama pelakunya tidak menyebarkan secara paksa ke orang lain dan tidak melakukan bentuk pelanggaran hukum, praktis pemerintah tidak bisa melakukan bentuk diskriminasi atau bentuk kekerasan lainya pada mereka.

Justru disaat-saat seperti inilah, lanjut Paulus, semua pihak harus memerkuat idilogi/budaya mainstream mereka. Misalnya, dari lingkungan keluarga, bisa memberikan solusi atau memberi jalan keluar bagi anak-anak mereka yang menjadi LGBT karena pergaulan. Di level masyarakat, bisa dilakukan dengan sosialisasi, konseling atau setidaknya memberikan suri tauladan, sehingga yang lain tidak menjadi LGBT karena pergaulan. (OL-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Widhoroso
Berita Lainnya