Media Harus Bangun Kepercayaan Publik

Nur Aivanni Fatimah
09/2/2016 16:14
Media Harus Bangun Kepercayaan Publik
(ANTARA/Widodo S. Jusuf)

PRESIDEN Joko Widodo mengingatkan kepada insan pers agar bisa membangun kepercayaan kepada publik dengan karya jurnalistiknya. Jika tidak ada kepercayaan jangan harap ada investasi atau hal lainnya masuk ke Indonesia.

"Kepercayaan yang bisa membangun adalah media," tegasnya saat memberikan sambutan dalam peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2016 yang mengusung tema Pers Merdeka Mendorong Poros Maritim dan Pariwisata Nusantara, di Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika Resort, Nusa Tenggara Barat, Selasa (9/2).

Pada kesempatan tersebut, Jokowi mengatakan pers memiliki fungsi kontrol sosial. Untuk itu, ia menginginkan agar insan pers bisa membangun optimisme publik, etos kerja masyarakat, dan membangun produktivitas masyarakat. "Bukan sebaliknya," cetusnya.

Ia pun menyayangkan pemberitaan yang disajikan terkadang memunculkan sikap optimisme dan lebih mengedepankan berita yang sensasional. "Apalagi ditambah komentar pengamat-pengamat, makin ramai. Saya berikan contoh, berita-berita seperti ini mengganggu masyarakat, kalau saya ngga, 'Indonesia diprediksi akan hancur'," jelasnya.

Jokowi mencontohkan beberapa judul berita yang justru membangun pesimisme. 'Pemerintah Gagal, Aksi Teror Tak Akan Habis Sampai Kiamat pun', 'Kabut Asap Tidak Teratasi, Riau Terancam Merdeka', 'Rupiah Tembus Rp 15ribu', 'Jokowi-JK Akan Ambruk'.

"Kalau judul itu diteruskan yang muncul pesimisme, yang muncul etos kerja yang tidak terbangun dengan baik dan hal-hal yang tidak produktif," tambahnya. Meskipun hal tersebut hanya berupa asumsi, kata Jokowi, itu akan sangat mempengaruhi pembentukan karakter, mentalitas dan moralitas publik.

Menurutnya, jika berita pesimisme tersebut yang dimunculkan terus menerus, maka akan muncul ketidak percayaan dari publik. "Kalau tidak ada kepercayaan jangan harap ada arus uang masuk, investasi masuk," ujarnya. Selain itu, ia juga menyoroti media yang seringkali mengabaikan kode etik jurnalisme demi mengejar kecepatan tanpa mempertimbangkan keakuratan berita.

Untuk itu, Presiden berharap insan pers dapat terus dipercaya oleh publik sebagai pilar keempat demokrasi. Serta, memberikan tempat pada pemikiran dan gagasan terbaik dari masyarakat.

Pemilik Media Group Surya Paloh menekankan Hari Pers Nasional kali ini menjadi momentum bagi insan pers untuk melakukan introspeksi diri dalam memanfaatkan kebebasan pers yang ada. Menurutnya, kebebasan tersebut harus dimanfaatkan secara bertanggung jawab.

"Momentum ini kembalilah pada prinsip kebebasan pers dan bertanggung jawab pada etika dan profesionalisme," jelasnya.

Ia pun menyampaikan insan pers saat ini mulai terjebak pada pemikiran-pemikiran yang pragmatis. Padahal, sambungnya, peran utama insan pers adalah menjaga kedaulatan sisten demokrasi di negeri ini. "Jadi, pilar demokrasi tidak lepas dari arti eksistensi peran pers," tandasnya. (OL-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Widhoroso
Berita Lainnya