Pemda Lamban Antisipasi DBD

Fetry Wuryasti
03/2/2016 04:15
Pemda Lamban Antisipasi DBD
Pasien demam berdarah dengue (DBD) mendapat perawatan di bangsal Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Depok, Jawa Barat, kemarin.(ANTARA/Indrianto Eko Suwarso)

Penetapan status kejadian luar biasa (KLB) terhadap wabah DBD tergantung ada tidaknya korban meninggal.

PENINGKATAN jumlah penderita demam berdarah dengue (DBD) di beberapa daerah menunjukkan kelambanan pemerintah setempat mengantisipasi wabah yang berulang setiap tahun tersebut. "Sebelum musim penghujan Menkes telah mengirim edaran ke semua kepala daerah agar siaga menghadapi musim hujan. Mereka diminta melakukan tindakan pencegahan DBD. Kabupaten yang menjalankan amanat biasanya tidak marak terdampak DBD. Bila ada, pasien lekas pulih. Di daerah yang tidak menjalankan edaran, pasti di sana marak DBD," kata Sekjen Kementerian Kesehatan Untung Suseno kepada Media Indonesia, kemarin.

Menurut Untung, yang penting setiap pemerintah daerah melakukan pencegahan. "Jangan justru baru ramai setelah banyak korban meninggal. Itu hanya membuat masyarakat takut. Lakukanlah gerakan pencegahan.

"Kepala Dinas Kesehatan Kalteng Suprastija Budi meng-akui pihaknya telah meminta 14 kabupaten/kota se-Kalteng melakukan pengasapan secara terfokus. "Tetapi terlambat. Kalau setiap daerah berkehendak menetapkan status kejadian luar biasa (KLB) atas wabah DBD itu tergantung bupati/wali kota setempat."Kini, untuk mencegah meluasnya wabah DBD aparat mengawasi ketat penyebaran penyakit yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti itu di lima kabupaten di Kalteng, yaitu Kabupaten Kotawaringin Barat, Kotawaringin Timur, Katingan, Kapuas, dan Kota Palangkaraya.

"Di RSUD Doris Sylvanus Palangkaraya, pasien DBD selama Januari mencapai 64 orang. Sebanyak 30 di antaranya melakukan rawat jalan. Jumlah pasien meninggal ada tiga orang," ujar Kahumas RSUD Doris Sylvanus, Theodorus Sapta Atmaja.

KLB terbatas

Penderita DBD di Kota Depok, Jawa Barat, yang dirawat hingga kemarin mencapai 140 orang. Menurut Kepala Dinas Kesehatan Kota Depok Noorzamanti Liez Karmawati, pihaknya menampung pasien DBD di 19 rumah sakit pemerintah dan swasta. "RSUD kota merawat pasien di IGD dan selasar. "Di Kuningan, Jawa Barat, empat penderita DBD meninggal dunia selama Januari 2016. Total penderita DBD di kabupaten itu Januari lalu mencapai 100 orang.

"Pertengahan Januari lalu penderita DBD tercatat hanya 40 orang. Namun, meningkat hingga mencapai 100 orang. Wabah DBD melanda seluruh kecamatan di Kuningan. Hanya satu kecamatan yang bebas DBD, yakni Kecamatan Subang," ungkap Kasi Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit Dinas Kesehatan Ku ningan, Dedik Purnaman. Masih di Jawa Barat, Dinas Kesehatan Kota Sukabumi mencatat ada 46 kasus DBD yang berkembang hingga 27 Januari. "Jumlah itu menurun jika dibandingkan dengan periode sama di 2015 yang 179 kasus. Kami menetapkan status KLB jika ada penderita meninggal," jelas Kepala Dinkes Kota Sukabumi Rita Nenny. Sementara itu, di Padang, Sumatra Barat, selama Januari 2016 ada empat warga meninggal dari 100 penderita DBD. Menurut Kabid P2 dan Bencana Dinas Kesehatan Provinsi Sumbar Irene, faktor pemicu DBD ialah kondisi lingkungan yang kumuh sehingga nyamuk cepat berkembang biak. "Baru Kota Bukittinggi yang menetapkan status KLB.

"Di Provinsi Jawa Timur, menurut Asisten IV Sekdaprov Jatim Mujib Affan, hingga kini tercatat 40 orang meninggal akibat DBD. Ada lima kabupaten dengan jumlah penderita DBD yang terbilang tinggi, yaitu Kabupaten Pacitan mencapai 152 kasus, Kabupaten Jombang 148 kasus, Kabupaten Kediri 94 kasus, Kabupaten Bangkalan 89 kasus, dan Kabupaten Sumenep 76 kasus. (SS/KG/UL/BB/YH/FL/X-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya