Surga Sampah di Kota Ternyaman di Dunia

Haufan Hasyim Salengke
02/2/2016 21:11
Surga Sampah di Kota Ternyaman di Dunia
(Ilustrasi)

SEORANG gadis kecil menjerit kegirangan saat ia berjalan-jalan di sepanjang pantai di Hong Kong. "Oh, lihat bunda. Hong Kong salju!" teriaknya.

Objek yang ditunjuk bocah itu bukanlah anomali meteorologi, melainkan sebenarnya gundukan sampah polistirena yang dibuang masyarakat. Polistirena adalah salah satu dari banyak zat yang digunakan untuk pembuatan plastik

Hong Kong, kota yang masuk dalam jajaran kota paling layak huni dan maju di dunia, tercekik oleh masalah sampah plastik.

"Setiap hari volume setara dengan dua pesawat Airbus A380 dibuang dalam bentuk limbah domestik," ungkap Lisa Christensen, koordinator pendiri inisiatif HK Clean Up.

Sampah plastik industri dan komersial dan lebih dari 2.000 ton material dibuang saban hari di wilayah pesisir dan perairan Hong Kong. Permsalahan sampah telah menjenuhkan daya tampung tempat pembuangan akhir (TPA) dan membuat mampat taman-taman.

"Fokus generasi supermarket kita adalah pada kenyamanan, isu-isu polusi tampak sangat jauh dari mereka," kata aktivis lingkungan lokal Jo Wilson, yang putrinya menyoroti masalah 'salju Hong Kong' tadi.

"Orang-orang menghasilkan dobel digit sampah, terutama plastik, hanya dari makan siang. Hong Kong memiliki pasukan pembersih dan pembantu jadi mungkin sebagian orang tidak terbiasa untuk menjaga lingkungan sekitar mereka," dia menambahkan.

Ia menjelaskan kemasan berlebihan yang dihasilkan industri makanan dan kurangnya pendidikan publik tambah memperburuk masalah sampah di Hong Kong.

Secara global produksi plastik telah melonjak dari 15 juta ton pada 1964 menjadi 311 juta ton pada 2014. Angka ini diharapkan akan meningkat dua kali lipat dalam 20 tahun karena permintaan yang terus tumbuh, menurut laporan "The New Plastics Economy" yang disajikan oleh Ellen MacArthur Foundation di Forum Ekonomi Dunia pada Januari.

Situasi di Hong Kong menjadi sorotan karena masyarakatnya yang sangat berbasis konsumsi berbasis. "Rata-rata kami menghasilkan 1.36kg limbah domestik per orang, per hari. Tokyo, di sisi lain, hanya menghasilkan 0.77kg," tegas Christensen.

Meski telah ada sejumlah keberhasilan dalam mendorong orang untuk mendaur ulang kertas dan logam, namun masalah masih menghantui untuk limbah plastik. Hanya lima persen dari plastik dikirim ke daur ulang pada 2014, dibandingkan dengan 25% pada 2005, menurut angka pemerintah. (AFP/OL-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Widhoroso
Berita Lainnya