Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
BADAN Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menggandeng Jepang untuk melakukan riset bersama pencarian obat antimalaria dan antiamuba yang baru. Dari penelitian tersebut, diharapkan berhasil diketemukan jenis obat antimalaria baru, pengganti obat malaria saat ini yang sudah mengalami resistensi (kebal virus).
"Target kita pada 2019-2020 nanti sudah diketemukan jenis obat malaria baru," sebut Deputi Kepala BPPT Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi, Eniya Listiani Dewi, di Jakarta, Selasa (2/2).
Kerja sama itu sudah berlangsung sejak 2015. Saat ini, para peneliti sudah berhasil membuat isolasi 25 ribuan zat aktif yang bisa dikembangkan untuk bahan obat malaria dan antiamuba. Sumber isolat itu, lanjut Eniya, berasal dari beragam dbiodiversity yang ada di Indonesia, baik tanah, tumbuhan, hingga virus dan amuba itu sendiri.
Tahun depan diharapkan sudah bisa dibuat obat yang bisa diuji ke mencit (tikus putih) terlebih dahulu. Setelah proses pada mencit berhasil, akan dilakukan uji klinis pada manusia, sehingga setelah 2019, obat sudah bisa didaftatkan ke industri.
Lebih jauh dikatakan, hasil paten dari obat-obat tersebut akan menjadi miliki bersama dari pihak-pihak yang melakukan riset ini. Mereka yang melakukan riset dari Indonesia adalah, Universitas Airlangga, BPPT dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Sedangkan dari pihak Jepang adalah, Kitasato University, Tokyo University, dan Microbiopharm Japan.
Peneliti dari Pusat Farmasi dan Medika BPPT Tarwadi menjelaskan alasan diperlukanya mencari obat baru malaria. Pasalnya, obat malaria jenis klorokuin diketahui sudah mengalami resisten (kebal virus) di beberapa daerah Timur Indonesia, dan Afrika.
Sementara jenis obat malaria terbaru jenis primakuin asal Tiongkok, juga diketahui sudah mendapatkan resistensi di Kamboja dan beberapa negara. Walhasil, obat-obatan tersebut tidak bisa dipakai lagi di daerah tersebut, lantaran tidak akan bisa membunuh virus malaria.
Selain adanya resistensi, alasan lain dilakukannya riset mencari obat baru malaria karena kasus malaria di Indonesia, khususnya di bagian Timur masih tinggi. Menurut Kemenkes, lebih dari 200 per 1 juta penduduk Indonesia bagian Timur menderita penyakit malaria.
Alasan yang sama juga menjadi alasan mengapa dicari obat baru antiamuba. Pasalnya, selain sudah mengalami resisntensi, penyakit yang disebabkan amuba di Indonesia cukup besar. Saat ini, 40% kejadian diare yang membunuh banyak bayi di Indonesia, disebabkan oleh amuba. (OL-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved