Wabah Demam Berdarah Meluas

Putri Rosmalia Octaviyani
01/2/2016 04:25
Wabah Demam Berdarah Meluas
(Sumber: Ditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes/Eliminate Dengue Project UGM/L-1/Grafis: Caksono)

MESKI belum ada laporan wabah virus Zika, Indonesia justru menghadapi penyebaran penyakit demam berdarah dengue (DBD) yang semakin meluas.

Jumlah daerah yang menyatakan status kejadian luar biasa (KLB) DBD pun makin bertambah.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, sejak Januari 2016 hingga saat ini, terdapat delapan daerah yang telah menyatakan KLB DBD.

Kedelapan daerah itu ialah Kota Gorontalo (Gorontalo), Kaimana (Papua Barat), Bulukumba (Sulawesi Selatan), Pangkep (Sulawesi Selatan), Luwu Utara (Sulawesi Selatan), Wajo (Sulawesi Selatan), Gianyar (Bali), dan Kota Denpasar (Bali).

Selain itu, peningkatan kasus terjadi sejak beberapa hari terakhir di Provinsi Jawa Timur dan Provinsi Jawa Barat.

Pemprov Jatim telah menyatakan adanya laporan KLB di 15 daerah, di antaranya Sumenep, Jombang, Trenggalek, Banyuwangi, Probolinggo, Kediri, Pamekasan, Madiun, Ponorogo, Lamongan, dan Mojokerto.

Sementara itu, Jawa Barat melaporkan KLB DBD terjadi di Bandung, Bogor, dan Tasikmalaya.

"Status waspada ditetapkan menjadi KLB karena peningkatan jumlah pasien DBD sudah melebihi jumlah tahun lalu, dan di Januari sekarang sudah 60 orang positif telah ditangani di berbagai puskesmas dan rumah sakit di Tasikmalaya," kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tasikmalaya Oki Zulkifli Duzki, kemarin.

Meski jumlah daerah yang menetapkan KLB DBD bertambah, hingga saat ini Kemenkes menyatakan belum akan menetapkan DBD sebagai KLB nasional.

Penanganan secara menyeluruh di setiap daerah masih menjadi fokus utama untuk dilakukan.

Sekretaris Jenderal Kemenkes Untung Suseno sebelumnya menyatakan Kemenkes terus memantau perkembangan kejadian DBD di berbagai daerah.

Imbauan pada pemda untuk terus melakukan pencegahan juga terus dilakukan.

"Intinya kami terus memantau dan berkomunikasi dengan pemda dan dinas kesehatan. Kalau ada yang dirasa perlu dibantu tangani, Kemenkes akan lakukan," ungkap Untung saat dihubungi, kemarin.

Resistensi

Untuk mencegah meluasnya wabah DBD, berbagai daerah mengantisipasi dengan pengasapan (fogging), di samping mengajak masyarakat untuk membersihkan lingkungan.

Namun, upaya pengasapan dinilai mulai tidak efektif membunuh nyamuk Aedes aegypti.

Dinas Kesehatan Kota Sukabumi, Jawa Barat, justru berupaya mengurangi kegiatan pengasapan karena hasil survei menyebutkan ada indikasi resistensi nyamuk Aedes aegypti terhadap cairan pembasmi.

"Hasil survei menyebutkan nyamuk sudah dalam status resistensi. Kami masih menunggu resminya berupa surat keputusan dari Menteri Kesehatan. Nanti surat itu akan disebarluaskan," kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Sukabumi Rita Nenny, kemarin.

Terkait dengan wabah virus Zika yang telah melanda kawasan Amerika Selatan, dokter ahli penyakit dalam Ari Fahrial Syam mengingatkan perlunya antisipasi.

Pasalnya, vektor penular, yakni Aedes aegypti, telah menjadi pembawa wabah sejak puluhan tahun.

Dengan demikian, mungkin virus Zika telah ada di Indonesia.

(AD/BB/X-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya