Virus Zika Sudah Masuk di Indonesia

Cornelius Eko Susanto
28/1/2016 20:07
Virus Zika Sudah Masuk di Indonesia
(AFP/Marvin RECINOS)

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengakui bahwa infeksi virus zika sempat terjadi di Indonesia pada 2014 lalu. Penularan itu terjadi terhadap seorang laki-laki yang tinggal di Jambi.

“Identitas dan status dari orang yang terinfeksi tersebut belum boleh dipublikasikan,” sebut Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Langsung Kemenkes Wiendra Waworuntu, di Jakarta, Kamis (28/1).

Pasien positif terinfeksi virus zika itu ditemukan tidak sengaja oleh Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, saat melakukan studi demam berdarah dengeu (DBD) di sana. Dari 200 sampel yang diambil, 103 diantaranya positif DBD. Usai sampel positif DBD itu diuji dengan metode reverse tanscriptase-polvmerase chain reaction (RT PCR), ternyata kedapatan 1 orang positif mengidap virus zika.

Dari kejadian ini, bisa disimpulkan bahwa nyamuk Aedes aegypti di Indonesia tidak hanya dapat menimbulkan DBD dan chikungunya, tetapi juga ada yang membawa virus zika. Pasalnya, vektor penular virus zika sama dengan DBD, yaitu nyamuk Aedes aegypti untuk daerah tropis, Aedes africanus di Afrika, dan juga Aedes albopictus pada beberapa daerah lain.

Sudah adanya virus zika di Indonesia, lanjut Wiendra, diperkuat dengan kasus penularan virus itu terhadap seorang warga Australia pada 2013. Jurnal kesehatan di sana menyebutkan, yang bersangkutan tertular virus saat berwisata ke Indonesia.

Dengan tengah mewabahnya kasus penularan virus zika di Amerika Latin, Wiendra meminta sejumlah provinsi yang kasus DBD-nya tinggi pada 2015 lalu, yaitu Jabar, Jatim, Jateng, Bali dan Kaltim untuk waspada. Pasalnya, vektor penular virus zika, sama dengan DBD yang merupakan vektor endemis di Indonesia.

Terlebih Centre for Disease Control (CDC) mengkatagorikan Indonesia, bersama Kamboja, Thailand, Malaysia, Filipina dan Maladewa sebagai daerah ‘waspada’ virus zika. Sedangkan daerah Karibia dan Amerika Latin, oleh CDC sudah diberi status ‘peringatan’ akan bahaya wabah (<>outbreak<>) zika.

“Walau belum ditemukan kasus di tahun ini di Indonesia, kita harus waspada. Sebab kita sudah punya riwayat kasus dan tengah ada wabah zika di luar negeri,” katanya.

Berkenaan dengan wabah zika yang tengah terjadi di Amerika latin, Wiendra mengatakan belum ada himbauan dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) untuk mengeluarkan peringatan larangan berpergian terkait penyakit tersebut.

Pada kesempatan itu, Wiendra menambahkan, menurut laporan WHO, hingga minggu ke-2 di 2016, di Brazil sudah terjadi 3.893 kasus, dengan 49 diantaranya meninggal dunia.

WHO menduga virus ini ada kaitannya kasus bayi lahir dengan kepala lebih kecil dari ukuran normal (mikrosefalus). Pasalnya, semenjak virus zika ini merebak, kasus mikrosefalus terhadap bayi di Brazil meningkat pesat.

Walhasil sejumlah negara, seperti Brazil, Kolombia, Ekuador, El Savador dan lainya, merekomendasikan agar dilakukan penundaan kehamilan hingga wabah penyakit tersebut berlalu. “Saat ini WHO dan CDC Atlanta tengah melakukan riset hubungan virus zika dengan kejadian mikrosefalus di Brazil,” sebutnya. (OL-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Widhoroso
Berita Lainnya