Virus Zika Ancam Ibu Hamil di Amerika Latin

Haufan Hasyim Salengke
26/1/2016 20:10
Virus Zika Ancam Ibu Hamil di Amerika Latin
(AFP PHOTO/Schneyder Mendoza)

"Tunda kehamilan untuk dua tahun ke depan." Itulah imbauan sekaligus peringatan yang dikeluarkan oleh pemerintah El Salvador untuk para perempuan di negara Amerika Latin itu.

Kebijakan pengendalian kehamilan diambil untuk menangkal penyebaran Zika, yaitu virus yang menyebabkan bayi lahir cacat dan ini merebak di kawasan Amerika Latin dan Karibia, terutama Brasil dan Kolombia. El Salvador memiliki 5.397 kasus Zika.

Tapi serentetan rekomendasi yang dikeluarkan para pejabat kesehatan di beberapa negara telah memicu cemoohan di kawasan. Aktivis mengatakan perempuan di sana telah memiliki sedikit kontrol atas tubuhnya.

Sejak Zika, yang menular lewat gigitan nyamuk, telah menyebabkan ribuan bayi lahir dengan dengan kondisi mikrosefali, atau memiliki kepala lebih kecil dari semestinya. Virus ini dapat menyebabkan kerusakan otak dan kematian.

Brasil merupakan negara yang paling terdampak Zika. Kasus mikrosefali di negara itu melonjak dari rata-rata 163 per tahun menjadi 3.893 sejak Zika mulai merebak. Sebanyak 49 dari ribuan bayi tersebut telah meninggal.

"Seandainya saya belum hamil ketika informasi ini tersebar, saya pasti akan menunda kehamilan sehingga tidak akan harus menjalani semua tekanan ini," kata Manuela Mehl, yang sedang hamil 16 minggu, di Rio de Janeiro, Brasil.

Ia menambahkan, "Jelas, Anda akan mengurus bayi Anda sebaik mungkin, tetapi membesarkan anak dengan masalah neurologis membutuhkan banyak perhatian dan dedikasi dari pihak orangtua. Ini situasi yang sangat sulit. Sulit untuk dipikirkan."

Pemerintah Kolombia, tempat 11.613 orang terinfeksi Zika dan sebanyak 100 bayi lahir dengan maalah mikrosefali, mengeluarkan imbauan penundaan kehamilan serupa dengan El Salvador, tapi dengan periode yang lebih pendek yaitu enam bulan.

Negara Latin lainnya, Ekuador juga memperingatkan kaum perempuannya sementara Jamaika, yang belum mendeteksi kasus Zika tapi bisa menjadi negara berikutnya yang terdampak, menyatakan mengeluarkan kebijakan penundaan kehamilan selama enam sampai 12 bulan.

Saran tersebut sontak dicemooh di beberapa tempat. Sejumlah pihak menuduh tingginya tingkat kekerasan terhadap perempuan, yang mana banyak negara melarang aborsi dan terbatasnya akses ke keluarga berencana, terutama bagi masyarakat miskin. (AFP/OL-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Widhoroso
Berita Lainnya