Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
PERHIMPUNAN Pakar Gizi dan Pangan Indonesia (Pergizi Pangan) menilai anak Indonesia masih mengalami permasalahan beban ganda gizi di semua kelompok umur. Artinya, masih banyak yang mengalami masalah kekurangan gizi, di sisi lain terdapat pula yang kelebihan gizi sehingga mengalami masalah kegemukan.
"Mulai dari balita, usia sekolah hingga remaja, mengalami berbagai masalah gizi. Mulai dari anemia, kurang gizi, sampai obesitas," ujar Ketua Umum Pergizi Pangan Hardinsyah, pada edukasi gizi lewat Karnaval Ayo Melek Gizi di Jakarta.
Adanya beban ganda (double burden) tersebut, tecermin dari hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013. Di situ tercatat, sebanyak 19,6% anak balita masih mengalami kekurangan gizi, 37,3% anak balita mengalami pendek (stunting), dan sekitar 20% usia di atas 18 tahun mengalami kegemukan (lihat tabel).
Ada sejumlah faktor yang menyebabkan beban ganda gizi di Indonesia. Faktor utama tentu saja adalah persoalan kemiskinan dan rendahnya pengetahuan.
Namun, Hardinsyah mengemukakan sejumlah faktor lain penyebab masalah tersebut, seperti, masalah kekurangan vitamin dan mineral serta masalah keamanan pangan terutama pangan jajanan anak sekolah.
Kurangnya vitamin dan mineral disebabkan rendahnya publik di negara kita dalam mengonsumsi sayur dan buah. Hasil Riskesdas 2010 memperlihatkan 93,5% penduduk Indonesia berusia di atas 10 tahun kurang mengonsumsi buah dan sayur. Artinya, hanya 6,5% penduduk yang cukup mengonsumsi sayur dan buah.
Hal ini, lanjut Hardinsyah, diperkuat laporan Survei Diet Total (SDT) 2015 yang menunjukkan bahwa rata-rata konsumsi sayur dan buah penduduk Indonesia hanya mencapai 57,1 gram dan 33,5 gram per orang dalam satu hari.
"Masalah gizi ini berakar pada dua hal, karena kekurangan sayur, buah, dan pangan hewani, kemudian satu lagi karena sanitasi lingkungan, pola hidup sehat kita yang belum memadai. Aktivitas fisik pun penting untuk dapat mengendalikan berat badan yang berlebih. Di Indonesia, angka aktivitas fisiknya masih rendah," terang Hardinsyah.
Direktorat Gizi Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Giri Wurjandaru menyatakan faktor gizi berdampak pada tingkat kematian anak. Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan 50% kematian bayi disebabkan faktor gizi.
Karena itu, sambung Giri, gizi pranikah harus dipersiapkan minimal enam bulan sebelumnya sehingga dapat terpenuhi dengan baik. Selain itu, sosialisasi mengonsumsi sayur, buah, dan pangan hewani seperti daging, ikan, telur serta susu dapat memenuhi kebutuhan zat gizi. (H-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved