Menpar Puji Surakarta sebagai Inisiator International Creativity Cities Network

Eko Rahmawanto
24/10/2015 00:00
Menpar Puji Surakarta sebagai Inisiator International Creativity Cities  Network
(MI/PANCA SYURKANI)
KATA-KATA semakin dilestarikan, semakin mensejahterakan itu bukan hanya untuk konsumsi natural resources atau objek alam saja. Tetapi juga terhadap karya berbasis kreasi, seni dan budaya. Hal itu disampaikan Menpar Arief Yahya dalam Pembukaan International Creativity Cities Conference (ICCC) yang gongnya ditabuh di Benteng Vastenberg Surakarta.

Karya kebudayaan itu idealnya memiliki dua kekuatan yang berimbang, cultural values dan commercial values. Pariwisata adalah produk dari cultural industry, yang harus dikreasi, untuk memberikan dampak ekonomi yang signifikan buat masyarakat. Contoh konkretnya adalah Korea Selatan saat ini. Kapitalisasi dari volume industri kreatif mereka, yang berbasis pada kreativitas dan budaya mereka mereka jauh lebih besar dibandingkan manufacturing.

Budaya K-Pop, Gangnam Style, Drama Romantisme Korea, nilainya sudah lebih besar daripada industri otomotif seperti Hyndai dan KIA. Juga lebih besar daripada industri hardware elektronik, semacam Samsung. Betapa dahsyat kekuatan K-Pop yang mengguncang dunia. Demam Korea pun mereka sebut sebagai K-Pop Wave, dan saat ini sedang dipopulerkan wave baru, yang mereka namai ''Cultural Wave'' Korea.

Bagaimana dengan kita? Budaya kita? Surakarta the spirit of Java jauh lebih kuat dan memiliki akar budaya yang kokoh jika dibandingkan dengan Korea. Mudah menilainya, tari-tarian Surakarta ketimbang dengan Korea? Ibarat bumi dengan langit, Surakarta jauh lebih luwes, lebih filosofis, lebih memiliki estetika tinggi, termasuk musik tradisionalnya seperti gamelan yang sudah memiliki solmisasi. Tidak sekadar menabuh gendang dan menyamakan gerak dan tari saja.

''Saya yakin betul, Surakarta jauh lebih hebat, jika dibadingkan dengan seni tradisi dari Korea,'' ungkap Menpar RI ke-14 yang dilantik sejak 27 Oktober 2014 itu.

Sayang, saat ini jumlah wisatawan mancanegara ke Surakarta baru di angka 30.000 saja setahun kemarin, 2014. Jika 1 wisman spending-nya US$1.200 hanya sekitar US$30 juta. Ditambah  dengan 3 juta rata-rata wisnus ke Surakarta yang membelanjakan rata-rata Rp 500 ribu. Maka satu tahun itu, Surakarta hanya mendapatkan sekitar Rp2 triliun dari sektor pariwisata.

''Terlalu kecil jika dibandingkan dengan potensi yang dimiliki Surakarta. Saya tahu problemnya, murni karena promosi dan connectivity saja. Soal produk, soal atraksi, saya percaya dengan 56 kalender events di Surakarta dalam setahun, itu berarti destinasi Surakarta sudah siap. Jadi, kalau masih kecil wismannya itu, yang salah Kemenpar-nya ini,'' aku Arief Yahya.

''Segera dibentuk wadah ICCN, Indonesia Creative Cities Network yang menjadi embrio lahirnya inkubasi: creative camp dan creative center. Sederhananya, ini ada contoh Swara Deling, anak-anak muda STSI Surakarta, memainkan musik bambu kontemporer. Produk ini masuk ke creative camp, untuk dibuat karya yang makin bagus lagi. Setelah oke, masukkan ke creative center, panggil koreografer, cari composer kelas nasional dan global. Setelah siap tampil, baru dikemas commercial value-nya. Tugas Kemenpar adalah komersialisasi, tugas BKRAF menggarap  cultural values-nya,'' kata Marketeer of The Year 2013, di Markplus Conference 2014 ini.

Bukan hanya produk kesenian saja yang bisa dikomersialisasi. Pertanian pun bisa dipikirkan menjadi produk service, atau produk pariwisata. Arief mencontohkan di Jogja, sudah mulai berkembang pasar pariwisata khusus, anak-anak sekolah Singapore itu berwisata atau field trip ke Indonesia. Beberapa paket yang dibuat oleh industri tour and travel Jogja adalah memanfaatkan lahan pertanian itu sebagai objek wisata.

Aktivitasnya? ''Anak-anak sekolah itu diajak becek-becek di lumpur, naik turun pematang sawah, naik gerobak pedati yang ditarik sapi, menanam padi, memanen padi, memandikan kerbau, dan berlepotan dengan lumpur. Jadi, kalau dijual hasil padinya Rp 10 ribu per kilo, kalau dijadikan objek wisata, bisa menghasilkan ratusan ribu dan berkelanjutan. Risetnya menyebut 5-10 kali lipat dan lebih sustainable,'' kata tokoh yang pernah dinobatkan sebagai The Most Inspirational CEO, Mens Obsession Award  2014,  2014 Green CEO ini.

Menteri Arief Yahya tidak heran dengan suasana seperti itu. Anak-anak Singapura tidak pernah menginjak tanah, tidak pernah tahu apa itu pohon padi, pohon mangga, pohon durian, dan sebangsanya. Konsepnya menjadi edu-tourism. Sama juga dengan turis asal Timur Tengah yang datang ke Indonesia, tergila-gila dengan hujan. Mereka hujan-hujan, dan heran melihat ada air turun dari atas langit.

''Saya kira perasaan itu sama dengan saat orang Indonesia berwisata ke Eropa terus memegang dan menginjak-injak salju. Pasti orang-orang Londo juga tertawa melihat kelucuan itu,'' papar Arief yang juga pernah menjadi  The Best Green CEO Majalah Warta Ekonomi 2014, The Best CEO 2014  Indonesia  Leadership  Award  SWA.

''Di sini ada Bu Kiki (Rizky Handayani, Asdep ASEAN Kemenpar), yang akan  membantu kawan-kawan untuk mempromosikan Surakarta The Spirit of Java di  luar negeri, terutama di pasar Singapore dan Malaysia, yang sudah ada  connecting flight-nya. Saya juga sudah berbicara dengan VITO Singapura  yang akan menjual paket seperti itu, untuk pasar Surakarta,'' sebut Arief  Yahya.

Menpar juga mengingatkan, agar mulai memikirkan dan berkonsentrasi untuk  mengemas karya kreasinya dengan digital. Harus dimarketingkan via digital. Di pariwisata sendiri, 70% orang di seluruh dunia searching  objek wisata dan pilihan berwisatanya dengan cara online juga.(R-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya