Tiru Disiplin Lembaga Pendidikan Jepang

Putri Rosmalia Octaviyani
23/10/2015 00:00
Tiru Disiplin Lembaga Pendidikan Jepang
(Ilustrasi/AP)
SISTEM pendidikan yang sangat disiplin, tertata, dan berbagai kelengkapan fasilitas kegiatan belajar di Jepang menjadi hal utama yang akan dibawa 10 pimpinan pesantren dari berbagai kota di Indonesia. Semua hal tersebut dianggap sebagai fondasi yang dapat terua membangun kualitas pesantren sebagai lembaga pendidikan khas Indonesia.

"Di sana itu sekolah sangat taktis, siswa tidak terlalu banyak dibebani berbagai mata pelajaran, tetapi langsung praktik dan fokus pada beberapa pelajaran tertentu," ujar Din Wahid, Ketua Rombongan Kujungan Pimpinan Pesantren ke Jepang yang berasal dari Universitas Negeri Syarif Hidayatullah di Jakarta, hari ini.

Budaya disiplin, bersih, dan etos kerja tinggi dikatakannya berhasil memberikan inspirasi bagi seluruh pemimpin pesantren tersebut. Mereka sepakat, sangat penting untuk dapat membuat pesantren sebagai lingkungan yang bersih, sehat, dan ramah lingkungan.

"Bersihnya Jepang serta sistem pendidikan yang mapan tentu berawal dari tingkat disiplin yang tinggi," ujarnya.

Pemimpin Pesantren Ibadurrahman, Ahmad Fahmi mengatakan, pesantren dapat menerapkan sistem pengelolaan sampah seperti yang dilakukan Jepang. Selain akan menciptakan lingkungan yang bersih, hal itu juga dapat mendatangkan keuntungan materi untuk podok pesantren. Selain iti, sangat dibutuhkan ketersediaan ruang terbuka hijau bagi siswa di sekitar pesantren.

"Harus lebih diperhatikan ruang dan lingkungan belajar yang baik untuk kegiatan belajar mengajar. Pondok pesantren terkadang melupakan ruang terbuka hijau," tutur Ahmad.

Selain dalam hal disiplin dan kebersihan, para pimpinan pesantren juga menunjukkan antusiasnya untuk menyertakan bahasa Jepang sebagai salah satu bahasa yanh diterapkan di pesantren. Koordinasi akan dilakukan untuk mendatangkan guru-guru bahasa Jepang, baik dari Indonesia ataupun langsung dari Jepang.

"Kami mengutarakan niat itu dan guru-guru di sana sangat antusias, tinggal pelaksanaannya harus dipikirkan bagaimana caranya. Kalau terwujud, ini bisa jadi poin plus untuk pesantren. Tidak hanya identik dengan bahasa Arab dan Inggris, tetapi semakin kaya dengan bahasa Jepang," ujar Din Wahid.

Sementara itu, Konselor Politik Kedubes Jepang untuk Indonesia, Takonai mengatakan, kegiatakan ini merupakan suatu wujud saling kepedulian antar kedua negara. Pendidikan dan budaya menjadi hal yang ditekankan untuk dikenalkan dalam kegiatan tersebut.

"Semuanya bisa saling belajar dan saling mengenalkan budaya masing-masing," ujar Takonai.

Kunjungan sepuluh pimpinan pondok pesantren ke Jepang tersebut berlangsung selama sepuluh hari sejak 12 Oktober lalu. Di Jepang, mereka melakukan kunjungan ke beberapa sekolah sebagai upaya studi banding sistem pendidikan di dua negara. Acara yang diselenggarakan oleh Kedutaan Besar Jepang untuk Indonesia bersama Japan Foundation tersebut telah dilakukan sejak tahun 2004. Hingga saat ini, sedikitnya 138 peserta dari berbagai pesantren di Indonesia telah mengikuti kegiatan tersebut. (Q-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya