KEMENTERIAN Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) Republik Indonesia memprioritaskan putra-putri terbaik bangsa untuk memeroleh program Beasiswa Unggulan (BU) Kemdikbud 2015/2016. Mencakup bidang kebudayaan, jurnalisme, dan pegiat sosial.
Wartawan kebudayaan Media Indonesia, Iwan J Kurniawan, mendapatkan kesempatan untuk mewawancarai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan di ruang kerjanya, Kantor Kemdikbud, Gedung A, Senayan, Jakarta, Rabu (21/10).
Iwan merupakan salah satu peraih Beasiswa Unggulan Kemdikbud dan peraih Beasiswa Pemerintah Federasi Rusia untuk program studi Bahasa Rusia di Kutafin Moscow State Law University dan program studi Magister bidang Jurnalistik di Russian State Social University, Moskow, Rusia. Berikut petikan wawancaranya: Apa yang menurut Anda menarik dengan program Beasiswa Unggulan di kementerian ini? Beasiswa manapun adalah alat yang memiliki efek besar ke depan. Kemdikbud memiliki tanggung jawab konstitusional untuk mengembangkan kebudayaan dan pendidikan. Mengembangkan artinya memfasilitasi individu-individu dan masyarakat yang akan berkiprah di dunia kebudayaan dan pendidikan. Memberikan kesempatan belajar lebih jauh itu menjadi penting.
Bagi individu-individu, banyak sekali yang bergerak di bidang kebudayaan, jurnalisme, dan pegiat sosial. Mereka sulit mendapatkan akses beasiswa. Untuk itulah, negara yang harus memfasilitasi. Indonesia adalah bagian dari dunia. Dan, dengan menggunakan beasiswa itu, kita mempersiapkan generasi baru yang memiliki bacaan tentang perubahan jaman dan bacaan tentang masa depan.
Perjuangan Indonesia untuk merdeka itu dijalani ratusan tahun. Tapi ketika anak-anak Indonesia mendapatkan kesempatan untuk berinteraksi dengan pendidikan modern, mereka menemukan cara untuk membebaskan Indonesia dengan teknik yang tepat di zamannya. Itu terjadi karena beasiswa. Jadi, beasiswa itu membuat mereka bersentuhan dengan teknik yang tepat di zamannya.
Agenda kita bukan berbicara seperti dulu. Teman-teman muda yang berangkat belajar, mereka akan berinteraksi dengan perubahan. Mereka akan berada di titik terdepan. Dan, mereka akan melihat Indonesia dari luar.
Gedung (Kemdikbud) ini kalau ditanya bentuknya, saya tak bisa jawab. Artinya, saya harus jalan keluar dulu untuk mengatakan bentuk gedung ini. Kita yang ada di Indonesia harus keluar sebentar. Begitu di luar, Anda akan melihat Indonesia.
Apa yang masih menjadi tantangan dengan keberadaan Beasiswa Unggulan sekarang ini? Pertama sosialisasi, kedua proses rekruitmen, dan ketiga masalah mendapatkan tempat yang sesuai. Kita harus memastikan proses sosialisasi berjalan baik, proses rekruitmen yang meritokrasi (dipilih karena prestasi), dan proses penempatannya. Mereka-mereka yang terseleksi, dan bisa menembus sekolah-sekolah yang persyaratannya tidak sesederhana, juga pasti pemerintah prioritaskan.
Yang sering saya alami di Indonesia, yaitu ada yang datang ketemu saya dan mengatakan 'Pak saya ingin sekolah'. Kalau ingin sekolah, ada ribuan anak ngomong begitu. Tapi kalau datang mengatakan 'pak saya sudah diterima dan saya butuh beasiswa'. Nah, ini menarik! Ha... ha... (tertawa).
Artinya, dia (seseorang) sudah bisa mengalahkan pesaing di suatu kompetisi. Cuma perlunya biaya. Tapi kalau ingin sekolah, semua orang ingin sekolah. Karena itu, fase ketiga sangat penting, yaitu yang lolos dengan meritokrasi harus bisa menempati tempat-tempat yang sesuai dengan rencana pengembangan bidang ilmu.
Kemana arah beasiswa pemerintah di era Presiden Joko Widodo? Kita ingin menempatkan beasiswa itu menjadi; satu, menyiapkan Indonesia lebih baik di masa depan. Dan kedua, menjadi eskalator sosial-ekonomi. Jadi, sebagian dari masyarakat Indonesia hari ini adalah mereka yang sudah bisa hidup mandiri.
Orang tuanya dulu belum, tapi generasi anaknya sudah hidup mandiri. Orang tua sudah bisa menyekolahkan sendiri. Saya sering menyebut (orang tua) itu dalam kategori kelas menengah. Nggak pakai definisi income (pendapatan). Tapi kira-kira begitu kalau semua sudah bisa dikelola sendiri, tidak perlu subsidi pemerintah. Itulah mandiri!
Sekolah bisa ngurus sendiri dan kesehatan bisa ngurus sendiri. Kalau sakit tak ke puskesmas atau rumah sakit pemerintah. Itu artinya mereka sudah hidup mandiri. Jadi butuh negara itu karena perlu SIM (surat ijin mengemudi), paspor, perlindungan, keamanan, dan izin. Tapi, soal kehidupan sehari-hari sudah bisa dijalankan sendiri.
Nah, bagi mereka yang sudah mandiri, maka membiayai anak sekolah sudah bisa mereka lakukan sendiri. Tapi bagi yang belum mandiri, maka di situlah negara yang akan terlibat dan di situ pula prioritasnya. Jadi, negara memainkan terus peran menjadi eskalator sosial-ekonomi untuk menarik ke atas. Karena, dulu bapak-bapaknya juga diangkat oleh negara ke atas.
Apa ada korelasi Beasiswa Unggulan dengan program Indonesia Mengajar yang Anda usung sebelum menjabat menteri? Bagaimana Anda menyikapi ini? Program Indonesia Mengajar seperti juga program beasiswa. Itu adalah saluran mempersiapkan masa depan. Tujuan Indonesia Mengajar ada dua. Pertama, mengirim tenaga terdidik berprestasi menjadi guru. Dan kedua, menyiapkan orang-orang terbaik untuk menjadi pemimpin di masa depan.
Ada pengalaman persaudaraan dengan orang-orang di grassroot (akar rumput). Anak-anak kita yang pernah tinggal di Rote (NTT), seumur hidup Rote itu Tanah Air-nya. Seumur hidup itu kampungnya. Begitu pula dengan guru yang ditempatkan di sana. Anak-anak di sana akan menganggap; 'itu kakak kami karena dia (guru) tinggal di rumah kami selama satu tahun'. Jadi, Indonesia Mengajar adalah menyiapkan orang-orang yang akan mengubah republik ini dengan cara diberikan pengalaman di grassroot.
Hari ini banyak orang yang punya kompetensi global, tapi tidak tahu grassroot. Di sisi lain, banyak orang yang mengerti grassroot tapi tidak punya kompetensi global. Beasiswa ini sama. Anda mengerti grassroot, Anda akan disentuhkan dengan kompetensi global.
Kesamaannya kompetensi global, tapi hatinya grassroot. Mereka-mereka yang punya pemahaman tentang Indonesia, tapi kompetensi tidak kalah. Saya katakan kepada anak-anak; 'lahir boleh di kampung, tapi standar tidak kampungan'. Lahir boleh di mana saja, tapi cita-cita atau mimpi harus di langit. Langit boleh di mana saja. Itu kesamaan antara beasiswa dan Indonesia Mengajar.
Bagaimana Anda melihat Indonesia 100 tahun ke depan? Semua yang dijanjikan di konstitusi sudah terbayar lunas. Semua orang Indonesia terlindungi, semua tercerdaskan, dan semua bisa menjadi bagian dari dunia. Indonesia masa itu adalah Indonesia yang janjinya sudah terbayar lunas. Republik ini didirikan oleh orang-orang dari berbagai daerah.
Pada perayaan 100 tahun kemerdekaan RI kelak, saya sangat berharap penuh. Saya katakan pada upacara kemarin (Senin lalu). Selalu saya katakan pada guru-guru kita. Yang berada di ruang kelas bapak/ibu guru sekarang itu adalah anak-anak yang akan menjadi panitia 100 tahun hari kemerdekaan RI.
Mereka kini berusia 15 tahun. 30 tahun mendatang, mereka akan umur 45. Merekalah yang akan memimpin upacara di 100 tahun itu. Pada saat itu, apa yang kita didik hari ini akan muncul. Dan, kita harus berjanji di saat Indonesia genap berusia 100 tahun bahwa kita tak perlu meminta maaf pada siapapun.
'Mohon maaf saya belum mencerdaskan. Mohon maaf saya belum mensejahterakan. Mohon maaf saya belum melindungi'. Itu tak ada! Pada semua penduduk Indonesia, negara ini bisa berkata, 'semua janji sudah dibayar lunas'. Saat itu, kita sudah bisa mengatakan bendera kita sudah sampai ke puncak. (X-12)