Antusiasme Reporter Cilik di Sektor Perindustrian

Irwan Saputra
22/10/2015 00:00
Antusiasme Reporter Cilik di Sektor Perindustrian
(MI/ramdani)
Gaya bak reporter profesional, dengan buku catatan dan alat tulis, serta rompi biru dengan warna khas jurnalis dari Media Indonesia. Begitulah penampilan Reporter Cilik (Repcil) MI ketika memasuki ruang rapat Kementerian Perindustrian untuk mewawancarai pak Menteri.

Dengan naluri bocah yang murni, terlihat raut wajah yang bahagia, cemas dan tak sabar untuk bisa tatap muka dengan pemegang kendali ranah perindustrian di negara ini.

Ketika sang Menteri datang, mereka berdiri sambil menyambut dengan salam. Satu per satu memperkenalkan diri dan sekolah asal kepada narasumber yang ditunggu-tunggu itu.

Saleh Husin, Menteri Perindustrian itu terlihat menahan girang antara bahagia dan takjub. Jika sehari-harinya Ia disambangi wartawan dari berbagai media nasional untuk dihujani pertanyaan, kali ini malah sekumpulan anak SD yang terlihat bak siap tempur.

Ketika sesi tanya jawab dimulai, pak Menteri lebih merasa heran lagi. Untuk anak di usia mereka, pertanyaan-pertanyaan yang diajukan cukup menarik, seolah mereka paham betul seluk beluk Kementerian itu.

Seorang siswa perwakilan SD Tunas Pertiwi mempertanyakan sebab produk impor Tiongkok bisa lebih murah dibanding produk dalam negeri.

Husein menjelaskan, hal itu karena perindustrian negara tersebut sudah sangat maju. Jadi, lebih ekonomis, biaya produksi bisa lebih murah.

"Produksinya pun lebih melimpah. Jadi barang yang dijual lebih murah," paparnya.

Zakira, salah seorang repcil menanyakan program strategis yang diprioritaskan oleh Kementerian Perindustrian.

Husen memaparkan, sesuai instruksi Presiden, Kemenperin diamanahkan untuk mengembangkan 14 kawasan industri diluar pulau Jawa. Hal ini agar pertumbuhan di sektor industri lebih merata.

"Dalam 5 tahun kedepan kita akan menumbuhkan 9000 unit usaha, dan 50 persen di luar jawa. Dan juga UMKM sebanyak 20 ribu unit," jelasnya.

Sebagai siswa-siswa pilihan, ditambah setelah berjumpa sang menteri, tentu mereka juga punya antusias untuk menjadi menteri.

Pertanyaan pun muncul dari salah seoran siswa dari SD Tunas Global mengenai bagaimana rasanya jadi menteri. "Enak gak sih pak, jadi menteri?"

Sambil tertawa, Husein menjelaskan suka duka selama Ia menjabat. "Ya kadang enak, kemana-mana dikawal fordrider, jadi lebih cepat. Tapi saya jadi gak bebas menggunakan waktu, semua telah terjadwal. Pergi pagi dan pulang malam," ungkapnya.

Setelah itu, para siswa mengabadikan momen berharga itu dengan foto bersama. Dilanjutkan meminta tanda tangan Saleh Husein di buku catatan mereka tadi.

Koordinator pelaksana Repcil, Yogi menjelaskan bahwa para peserta merupakan siswa-siswi pilihan yang disaring dari 128 sekolah. Setelah seleksi, ada 50 sekolah yang masing-masing diwakili satu orang siswa.

"Lalu mereka kita latih selama tiga hari sebelum terjun mewawancarai menteri," jelasnya.

Para siswa tersebut secara bergantian mewawancarai seluruh menteri dari jajaran kabinet kerja saat ini. "Setiap kementerian ada 10 anak yang mewawancarai secara bergantian. Bahkan kemarin kita baru wawancara bapak Presiden."

Ada yang beda dari kegiatan Repcil angkatan ke 10 ini. Jika sebelumnya hasil wawancara para siswa kepada Menteri-menteri hanya terbit dalam Koran Media Indonesia edisi anak, kali ini akan diabadikan dalam sebuah buku.

"Jadi tulisan-tulisan mereka akan dibukukan. Dengan judul buku calon pemimpin masa depan," pungkas Yogi. (Q-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya