Ketika Pariwisata Jadi Andalan Pendongkrak Ekonomi Nasional
Eko Rahmawanto
16/10/2015 00:00
( ANTARA/R. Rekotomo)
TIGA poin catatan khusus Presiden Joko Widodo di rapat terbatas Penajaman Program Pembangunan Pariwisata di Istana, 15 Oktober 2015. Satu, soal promosi. Dua, infrastruktur destinasi. Tiga, momentum growth di tengah pelambatan ekonomi global. Lalu apa rencana aksi Menpar Arief Yahya?
Statemen Presiden Jokowi sangat tegas dan lugas. Genjot promosi pariwisata ke berbagai negara di seluruh penjuru dunia. Pergunakan seluruh saluran komunikasi publik, dari televisi, radio, website, media cetak, media sosial, media luar ruang yang efektif. Perintah itu sebenarnya penajaman atas kata-kata orang nomor satu di Republik ini di hadapan publik, sejak Sail Tomini 2015 Sulawesi Tengah dan pencanangan Kawasan Pariwisata Terpadu Mandeh, Sumatra Barat 2015 lalu.
Poinnya sama, genjot promosi, perkuat marketing, pertajam branding, advertising dan sales dengan materi Wonderful Indonesia. Bagaimana memperkenalkan keindahan budaya, alam dan kreasi Indonesia di jagat pariwisata dunia?
Dengan cara apa menarik publik dunia untuk datang berwisata ke Indonesia? Lalu mereka membelanjakan duitnya lebih banyak Indonesia? Tinggal lebih kerasan di Indonesia, dan setelah kembali ke tanah airnya, mereka berkeinginan dan berencana untuk kembali lagi ke Indonesia?
Itulah pariwisata, sektor yang oleh Presiden Jokowi disebut sebagai cara paling cepat untuk mendongkrak perekonomian nasional yang sedang didera pelambatan. Mumpung bertemu momentum, di saat wisatawan yang ke Malaysia turun 8%, Singapura turun 1,5%, Indonesia masih naik di angka 2,78%.
“Ini momentum yang tepat,†kata Presiden Jokowi yang background-nya juga pebisnis dan swasta yang paham akan pentingnya berpromosi.
Lalu apa rencana aksi Menpar Arief Yahya? “Kami terus bombardier promosi pariwisata dengan konsep BAS atau Branding, Advertising dan Sales. Merancang BAS itu harus matching dengan DOT, Destination (objek wisata yang kita dorong, red), Origination (negara asal wisman yang menjadi target) dan Time (menemukan momentum atau pilihan waktu yang pas). Lalu menyampaikan materi promosi dengan konsep POS, paid media, own media dan social media,†jelas Arief yang pernah dinobatkan sebagai Marketeer of The Year 2013 dalam Markplus Conference 2014.
Di media-media internasional, materi promosi “Wonderful Indonesia†sudah tampil dan eksis. Arief Yahya menyebutkan, dari CNN International, BBC World, Sport Channels, National Geographic Australia, FX-Australia, Channel News Asia, FOX Channels, CCTV China, CNBC International, Channel 5 Channel 8 Channel U Singapore, MBN, MBC, TV3, Astro TV, TBS, TV Asahi Ch. 1, Channel 7, Channel 9, Aljazeera, DIVA (Asia TV Channel), Discovery Channel, Travel Living Channel/AFC. Presiden Jokowi sendiri mengaku sudah sempat melihat promosi pariwisata itu melalui channel CNN.
Model promosinya juga tidak monoton dengan TVC di channel TV, media elektronik, videotron dan web, tetapi juga dengan sticker yang membungkus badan bus kota, kereta, taxi dan berbagai fasilitas publik lain yang mudah ditangkap indra penglihatan, gampang diakses, cepat terbaca. Jangan kaget kalau kebetulan Anda berada di Singapore, Malaysia, Thailand, Vietnam, Filipina, Tiongkok, Australis, Jepang, Korea, Timur Tengah, Selandia Baru, Hong Kong, Taiwan, India, Eropa dan Amerika akan sering bertemu logo Wonderful Indonesia.
Di media online, apa lagi? Kebetulan, Arief Yahya adalah mantan Dirut PT Telkom Indonesia, yang setiap hari bergelut dengan dunia IT, komunikasi data, tentu sangat up date dengan perkembangan internet. “Kami bekerja sama dengan Google, bahkan saat Hari Pariwisata Dunia bulan lalu, mereka memperkenalkan aplikasi dengan menggunakan setting tempat di Borobudur. Dari data mereka, pertumbuhan orang yang searching ke situs resmi promosi dan pemasaran Kemenpar, www.indonesia.travel melonjak berlipat-lipat,†jelas Arief yang juga dijuluki The Most Inspirational CEO, Mens Obsession Award 2014.
Data yang dimiliki pria asli Banyuwangi, Jawa Timur itu menyebutkan, 60% orang memutuskan berwisata itu setelah searching dan melihat promosi di internet. Nomor satu tergerak hatinya untuk berwisata karena tayangan video. Persentasenya paling dominan. Baru disusul foto, gambar tak bergerak, desain grafis, dan ketiga baru text. “Tetapi semua channel media, kami tembus. Kami menggunakan istilah memancing di kolam yang banyak ikannya! Daripada menebar jaring di laut lepas,†kata marketer yang sudah mengantungi 31 penghargaan di bidang kepemimpinan (leadership), keuangan (finance), dan pelayanan (services) itu.