Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Profesi Indonesia (LP3I) sejak tahun lalu telah mengembangkan digital economy atau materi pembelajaran yang memanfaatkan teknologi untuk peluang kerja.
“Di kampus LP3I tersedia banyak komputer bagi mahasiswa untuk belajar soal digital economy, tentang pemanfaatan internet untuk menjual barang. Saat lulus, mereka tak hanya bisa jadi pekerja, tetapi juga menjadi wirausaha yang menggunakan teknologi untuk pemasaran produknya,†kata Presiden Komisaris LP3I Syahrial Yusuf dalam Rakernas LP3I yang dibuka Menkominfo Rudiantara di Bogor, seperti dalam rilis LP3I kepada pers, hari ini.
Syahrial Yusif menyatakan hampir 95 persen lulusan LP3I langsung terserap di dunia kerja. Lima persen sisanya, umumnya melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, seperti program sarjana (S-1).
“Kemampuan menggunakan teknologi menjadi bekal yang berguna untuk bisa bersaing di dunia kerja,†kata Syahrial yang mengaku lulusan LP3I mencapai 21 ribu orang.
Dalam sambutan peresmian Rakernas LP3I tersebut, Menkominfo Rudiantara mengatakan Kementerian Kominfo (Komunikasi dan Informasi) akan mendorong lembaga pendidikan tinggi mengembangkan materi pembelajaran terkait dengan digital economy. Hal itu guna memberi nilai tambah pada lulusan perguruan tinggi di Indonesia.
“Dalam era digital mahasiswa harus tahu bagaimana memanfaatkan teknologi informasi, baik untuk bisnis atau peluang kerja,†kata Menteri Kominfo Rudiantara.
Hemat dia, teknologi belum menjadi bagian dalam keseharian mahasiswa di Indonesia. Hal itu terlihat dari jumlah pemakaian telepon genggam yang terkoneksi dengan internet tak sampai 50 persen.
“Ketersediaan internet memang menjadi tantangan Kominfo dalam program ini,†ungkapnya.
Diakui Rudiantara, program ini tidak bisa dilakukan pihaknya sendirian namun butuh dukungan lembaga pemerintah lain dalam penyediaan listrik. Karena tanpa semua itu, program internet menjangkau desa tak akan berhasil.
Ia mengaku men dapat laporan, kalau masih ada 115 desa di Indonesia bahkan belum pernah teraliri listrik. Ini harus jadi perhatian bersama.
Ia berharap nantinya kampus tak hanya menghasilkan lulusan yang membuat barang, tetapi juga bisa mengelola jasa (service). "Karena jasa, kita memiliki peluang yang sama dalam menciptakan uang dan lapangan pekerjaan," ujarnya. (Q-1)