Raih Beasiswa, Anak Nelayan Itu Bisa Kuliah di Kampus Elite
Syarief Oebaidillah
09/10/2015 00:00
()
Bagi kalangan anak nelayan di Tanah Air, termasuk di kawasan Muara Angke, Pluit, Jakarta Utara, mengenyam pendidikan tinggi apalagi perguruan tinggi elite berstandar internasional merupakan impian yang mungkin sulit terwujud.
Namun tidak bagi Elita Tirta Triningrum dan Edi Sukmanto. Kedua anak nelayan ini mendapat tawaran beasiswa PT Muara Wisesa Samudera (MWS) anak usaha PT Agung Podomoro pengembang kawasan Pluit City untuk menempuh pendidikan tinggi di Podomoro University (PU).
Menurut Elita, sebelumnya tidak pernah terpikir dapat menempuh pendidikan di perguruan elite yang biaya kuliahnya saja mencapai ratusan juta rupiah.
Apalagi setelah selesai nanti pihak Agung Podomoro juga berjanji akan memberikan kesempatan Elita dan Edi Sukmanto berkarier pada salah satu perusahaan pengembang terbesar di Indonesia ini.
“Mendapat kesempatan kuliah gratis saja saya sudah sangat bersyukur. Apalagi jika ditambah dengan memprioritaskan saya menjadi karyawati tentu saya akan sangat bahagia. Karena itu bisa menjadi kebanggaan keluarga,†kata Elita.
Melalui rilisnya kepada pers, hari ini, Corporate Communication Pluit City Pramono mengatakan pemberian beasiswa perguruan tinggi yang diterima Elita dan Edi Sukmanto merupakan bagian CSR perusahaannya. Selain bea siswa tersebut, masih banyak lagi CSR lainnya yang disalurkan Pluit City.
“Meski kami belum melakukan reklamasi tetapi CSR yang telah kami salurkan sudah banyak,†ungkapnya.
Dia mengaku pihaknya tidak ingin menutup diri. Selama ini cukup banyak program CSR yang diberikan untuk menunjang sarana dan prasarana yang ada demi kepentingan masyarakat sekitar.
Masyarakat Muara Angke sendiri,menurutnya mendukung keberadaan Pluit City. Sebab dampak ekonomi yang dirasakan seperti pembukaan lapangan kerja serta peluang usaha bagi masyarakat setempat cukup besar.
Selama ini Pluit City melalui Pluit City Peduli dibawah naungan Yayasan Agung Podomoro Land (YAPL) cukup aktif dalam berbagai kegiatan masyarakat sekitar sebagai bagian dari kepedulian sosial. Misalnya, pembangunan rumah pintar, santunan anak yatim, bantuan pembangunan mesjid, penanaman hutan mangrove, dan sebagainya. Bahkan pihaknya juga telah membangunkan Rusunawa di Daan Mogot dan Muara Baru untuk masyarakat menengah bawah.
“Kami lebih menekankan pada langkah nyata dalam meningkatkan kepedulian kepada masyarakat,†cetusnya
Tentang dipilihnya kedua anak nelayan tersebut meraih beasiswa, kata Pramono, karena kiprah mereka dalam aktivitas yang membantu kegiatan warga sekitar. Seperti yang dilakukan Elita. Hidup serba kekurangan bukan berarti ia menjadi malas belajar atau apatis terhadap lingkungan di sekitar tempat tinggalnya. Di sela-sela waktu membantu orang tuanya mencari nafkah sebagai nelayan, ia mengikuti pendidikan formal di salah satu SMK Remaja di kawasan Pluit. Elita pun masih menyempatkan diiri mengajar anak-anak nelayan lainnya di PAUD, Paket A, B, C, TPA, serta tari bagi para balita putra-putri nelayan.
Ketika menghadapi anak-anak nelayan lainnya yang membutuhkan bimbingan, Elita justru merasa beratnya beban hidup dalam membantu orang tua seolah sirna. Sebab itu, aktivitas membantu anak-anak nelayan lainnya senantiasa ia jalani dengan gembira dan semangat.
“Kalau kita menjalaninya dengan ikhlas semua menjadi terasa ringan,†cetus bungsu dari 3 bersaudara ini.
Aktivitasnya tersebut menarik perhatian banyak pihak. Elita pum pernah dikirim sebagai Duta Anak DKI, peserta Kongres Anak Indonesia di Banten, serta Forum Anak Nasional.(Q-1)