Mensos: Mari Bangun Jaringan Komunikasi untuk Philantrophy
Fetry Wuryasti
07/10/2015 00:00
(ANTARA/Teresia May)
Diperlukan jaringan komunikasi yang baik untuk kiprah Philantrophy di Indonesia ke depan. Juga, perlu konsep sinergitas dan kebersamaan tentang arti, sifat, serta ukuran bantuan.
“Saya kira komunikasi yang baik penting dalam kaitan untuk membangun philantrophy atau rasa kepedulian secara tulus dan ikhlas,†ujar Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa, melalui rilis yang diterima Media Indonesia, Rabu (7/10).
Berkaca saat berkunjung ke Kota Sorong, Papua Barat, pasca terjadi bencana gempa tektonik. Sebab, di sana terlihat dengan jelas ukuran kepedulian dari makna "seksi" dari suatu peristiwa bencana.
“Saya tidak melihat ada posko dan biasanya jika bencana terjadi, begitu ramai dan marak betebaran. Apakah karena tidak ada korban tewas, sehingga menjadi tidak seksi untuk membangun kepedulian?,†tanya Mensos.
Ke depan, kehadiran Philantrophy bisa bergerak tidak hanya dalam konteks peristiwa bencana saja, melainkan dalam kegiatan lainnya untuk mempermudah warga yang memiliki berbagai keterbatasan akses.
Kemensos mengajak berbagai organisai dan perkumpulan, serta pegiat Philantrophy di Indonesia untuk bersama-sama dan bergandengan tangan dan ambil bagian dalam perhelatan akbar setiap tahun, yaitu Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional (HKSN) pada 20 Desember di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).
“Tahun ini, peringatan HKSN pada 20 Desember di Provinsi NTT. Peringatan jangan hanya seremonial, tetapi mesti dimaknai untuk menumbuhkan semangat peduli dan berbagi,†harpanya.
Di Indonesia, Philantrophy sendiri sudah ada sejak lama. Namun, pada awalnya mereka bergerak sendiri-sendiri dalam mempraktekkan kepedulian terhadap peristiwa atau keadaan kedaruratan.
“Philantrophy merupakan bagian dari modal sosial (social kapital) untuk terus memupuk dan menumbuhkan sikap kesetiakawanan sosial dan kepedulian terhadap sesama,†tandasnya. (Q-1)