Sejarah dan kepercayaan lokal selalu diceritakan dari tahun ke tahun dan generasi ke generasi. Meskipun kebenarannya belum terbukti secara ilmiah, hal itu tetap hidup dan menjadi kekayaan lokal. tidak terkecuali di Pulau Komodo, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Di pulau yang merupakan habitat asli komodo tersebut berkembang kepercayaan daerah mengenai asal-usul Komodo yang disebutkan merupakan anak dari Putri Naga Komodo yang melahirkan anak kembar, seorang putra yang diberi nama Gerong, serta seekor Komodo yang diberi nama Ora.
"Hal itu berkembang di kampung kami, dan sayapun menceritakannya kepada anak-anak saya," ucap Pemandu Lokal (Naturalist Guide) Hakim saat ditemui di Pulau Komodo dalam ajang Press Tour ke Taman Nasional Komodo, Senin (31/8) lalu.
Akan tetapi, sebagai seorang Pemandu Lokal, Hakim diajari untuk menerangkan mengenai asal-usul dan fakta hewan purba tersebut secara ilmiah oleh Balai Taman Nasional (TN) Komodo. Berbanding terbalik dengan pemahaman lokal yang dimiliki dan yang diajarkan oleh leluhurnya.
Awalnya, hal tersebut sempat dirasa aneh oleh Hakim. Pasalnya, Hakim adalah pemandu wisatawan yang diberdayakan oleh TN Komodo sebagai Pemandu Lokal yang sebelumnya bermata pencaharian sebagai nelayan.
Bentroknya keyakinan lokal serta pengajaran yang diterima dari TN Komodo disiasati oleh Hakim dengan bercerita sesuai dengan posisinya. "Ya kalau dalam pekerjaan, maka saya memberitahukan kepada pengunjung berdasarkan apa yang diajarkan di sini (TN Komodo)," imbuh Hakim.
Hakim sendiri mengaku, meskipun telah memiliki pengetahuan mengenai komodo secara ilmiah, dirinya bertekad untuk tetap menjaga pengetahuan lokal sebagai kearifan lokal yang harus diturunkan kepada anak cucu. "Karena kepercayaan itu tidak akan hilang dan terus hidup di masyarakat pulau ini," terang Hakim.
Bentroknya kepercayaan lokal dengan pengetahuan ilmiah selalu ditemui oleh Kepala Balai TN Komodo Henri. Bahkan, kata Henri, ada beberapa protes kecil pada awal dirinya memberikan pengetahuan tersebut.
"Tapi kami yakinkan bahwa kalau mau menerima pekerjaan ini, maka turis harus diberi penjelasan secara ilmiah, tapi tidak menutup kemungkinan mereka bisa bercerita mengenai legenda lokal," tutup Henri.(Q-1)