Wisatawan di Taman Nasional Komodo Terus Meningkat
Richaldo Y Hariandja
31/8/2015 00:00
(MI/Rommy Pujianto)
Kepala Balai Taman Nasional (TN) Komodo Helmi menyatakan ada peningkatan Kunjungan Wisatawan domestik di TN yang berada di Provinsi Nusata Tenggara TImur tersebut sejak 2002. Kepopuleran Taman Nasional tersebut mulai mencuat sejak ditahbiskannya TN yang berdiri sejak tahun 1997 tersebut sebagai The Real Wonder of The world pada tahun 2011 dan The New 7 Wonders of Nature pada tahun 2012.
Tercatat, kenaikan kenaikan signifikan turis Domestik terjadi di tahun 2011 yang berjumlah 6.177 orang, ketimbang 2965 orang di tahun sebelumnya. Jumlah wisatawan domestik makin meningkat hingga berjumlah 13.537 orang pada tahun 2014 lalu.
"Kenaikan pengunjung tersebut juga mengakibatkan pendapatan di wilayah ini menjadi meningkat," ucap Helmi saat disambangi awak media dalam acara Press Tour ke TN Komodo, Minggu (30/8).
Bahkan, lanjutnya, Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang ditargetkan pada tahun ini mencapai Rp17 miliar-Rp20 miliar. Helmi mengaku optimistis dapat mencapai angka tersebut mengingat hingga bulan Agustus PNBP di TN Komodo sudah mencapai kisaran Rp8 miliar. sementara di tahun sebelumnya PNBP TN Komodo hanya menyentuh Rp5 miliar.
Dengan demikian, Henri menambahkan bahwa ekonomi dan kesejahteraan masyarakat ikut tertolong dengan adanya peningkatan jumlah kunjungan di sana. "Penerimaan masyarakat bermacam-macam, mulai dari warung hingga penyewaan alat selam juga meningkat," tambah Henri.
Tidak hanya itu, terjadi pergeseran mata pencaharaian di masyarakat, khususnya di Pulau Komodo dan Pulau Rinca yang menjadi habitat asli dari Hewan Komodo (Varanus Komodoensis). Jika dahulu masyarakat di kedua pulau mayoritas adalah nelayan, maka dengan penyuluhan yang diberikan oleh Balai TN Komodo, masyarakat banyak yang beralih menjadi pemandu wisata bagi turis.
Saat ini, sudah ada 60 orang dari kedua pulau tersebut yang dilatih oleh Balai TN Komodo untuk menjadi pemandu wisata. "Mereka menjadi pemandu untuk melakukan tracking sambil melihat Komodo, maupun menerangkan mengenai Komodo secara ilmiah," imbuh Henri.
Dengan beralihnya mata pencaharian masyarakat terseut, dikatakan oleh Henri, juga turut membantu dalam menjaga kelestarian dari lautan sekita. Pasalnya, cara menangkap dari nelayan lokal masih banyak yang menggunakan bom, hal itu, tentu saja, merusak kekayaan laut di wilayah sekitar pulau.
"Tetap setelah kami yakinkan dan lakukan pembinaan, sudah tidak ada lagi yang melakukan aktivitas tersebut di sekitar sini, sekarang permasalahannya hanya pada nelayan dari luar wilayah yang kadang kala mencari ikan di sini," ucap Henri.
Jaga keaslian
Masifnya kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara diakui oleh Henri tentu saja berpeluang untuk membuat lokasi wisata menjadi rusak, apalgi ketika para wisatawan tidak bisa menjaga kebersihan atau keaslian wilayah yang dikunjungi.
Oleh karena itu, mengatur wisatawan untuk tidak menumpuk di satu pulau menjadi sebuah keharusan. "Jadi akan kami arahkan ke mana mereka harus pergi ketika sedang banyak wisatawan, antara pulau Komodo, Rinca maupun di Pulau Padar," sambung Henri.
Keharusan untuk menjaga keaslian dan keasrian juga dinilai penting oleh Kepala Biro Humas Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Eka W Soegiri, menurutnya dibutuhkan waktu-waktu tertentu untuk melakukan penutupan wilayah wisata agar kunjungan tidak membludak. "Seperti yang diminta oleh Ibu Menteri (Siti Nurbaya Bakar) bahwa harus ada keaslian ekosistem di wilayah ini," terang Eka. (Q-1)