Mendikbud Beri Penghargaan untuk 14 Tokoh Nasional
Syarief Oebaidillah
28/8/2015 00:00
()
Sebanyak 14 tokoh nasional meraih penghargaan dari organisasi PBB bidang pendidikan dan kebudayaan, UNESCO. Penghargaan diberikan Mendikbud Anies Baswedan selaku Ketua Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO.
"Penghargaan kepada tokoh tokoh kita ini semacam life time achievement award bukan seba langkah atau tindakan mereka. Namun karena rentetan akivitas dan komitmen mereka yang tiada henti dalam mengadi untuk negeri," kata Anies Baswedan pada acara yang dipandu tokoh pendidikan Arief Rachman di Kemendikbud, Jakarta, Kamis (27/8). Tampak hadir Ketua Umum PP Muhammadiyah,Haedar Nashir dan Ketua Umum PP Aisyiyah Siti Noordjanah.
Menurut penggagas Indonesia mengajar itu, ke 14 tokoh tersebut telah berkontribusi menjadi saksi serta pelaku sejarah republik dan bangsa ini.
14 tokoh penerima penghargaan UNESCO berasal dari empat bidang yaitu pendidikan, kebudayaan, sains, dan komunikasi.
Untuk bidang pendidikan, penghargaan diberikan kepada Daoed Joesoef, Conny R Semiawan dan Malik Fadjar. Bidang sains diberikan kepada Sangkot Marzuki, Indrawati Ganjar, Umar Anggara Jeni. Kemudian bidang kebudayaan diberikan kepada Taufik Ismail, Edi Sedyawati, Haryono Haryoguritno dan Taufik Abdullah. Selanjutnya, bidang komunikasi diberikan kepada Jakob Oetama, Bagir Manan, Herawati Diah, dan Ing Wardiman Djojonegoro.
Arief Rachman yang juga Ketua Harian Komisi Nasional UNESCO di Indonesia menambahkan penghargaan diberikan untuk menunjukan prestasi bangsa Indonesia melalui tokoh-tokohnya yang komitmen membangun Indonesia sekaligus mendukung program UNESCO.
Sementara Malik Fadjar menjawab pers mengapresiasi penghargaan tersebut. Hemat dia, pengabdian bidang pendidkan merupakan wahana kesinambungan antargenerasi.
"Atas dasar itu dunia pendidikan harus ditangani secara sungguh-sungguh.Masalah di dunia pendidikan tidak pernah ada selesainya harus mengikuti dinamika dan menjawab berbagai tuntutan," tegasnya.
Malik Fadjar yang pernah menjabat Mendiknas 2001-2004 mengingatkan nasihat Sayidina Ali dalam pendidikan yang menyatakan didiklah anak dan generasimu untuk masa yang akan datang karena mereka hidup bukan pada masa lalu tetapi masa berikutnya.
Budayawan Taufik Ismail berharap kurikulum pendidikan ke depan lebih memperhatikan dunia sastra serta menghidupkan membaca dan menulis bagi siswa. (Q-1)