Kampanye Anak Selamatkan Kematian Bayi

Puput Mutiara
28/8/2015 00:00
 Kampanye Anak Selamatkan Kematian Bayi
()
Puluhan siswa sekolah dasar di SDN Marunda 02 Pagi berlari estafet untuk menyuarakan harapannya akan masa depan dunia yang lebih baik. Di antara sekian banyak harapan terucap, salah satunya adalah hak anak untuk hidup.

Staf Ahli Bidang Pembiayaan dan Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Tini Suryanti Suhandi turut hadir menyaksikan dan mengapresiasi harapan anak-anak tersebut.

Ia mengatakan bahwa anak-anak berhak menyampaikan harapannya untuk hidup, termasuk juga kehidupan bagi anak yang baru dilahirkan. Pasalnya, saat ini masih banyak bayi meninggal akibat hal-hal yang sebetulnya bisa dicegah.

"Setelah lahir, bayi itu masih sangat sensitif sehingga harus benar-benar diperhatikan merawatnya. Karena itu setop jangan sampai ada bayi baru lahir meninggal," ujarnya dalam kegiatan kampanye Race for Survival 2015 yang digelar oleh Save the Children Indonesia di Cilincing, Jakarta Utara, Jumat (28/8).

Lebih jelas, masih tingginya angka kematian bayi (AKB) dapat dilihat berdasarkan hasil Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012 yang menyebutkan AKB mencapai 32 per 1000 kelahiran hidup. Atau dengan kata lain, setiap tahunnya ada 152.000 balita meninggal dunia.

Bahkan, hampir separuh diantaranya meninggal sebelum menginjak usia satu bulan. Sementara itu, sebanyak 59,4% kematian bayi dan 47,5% kematian balita terjadi pada bayi baru lahir (0 sampai 28 hari).

"Angka itu telah mengalami stagnansi dalam kurun waktu sepuluh tahun. Ke depan, kita akan terus berupaya agar target MDGs (Millenium Development Goals) yang belum tercapai ini bisa diteruskan," ungkapnya.

Untuk itu menurutnya, kegiatan yang diusung oleh Save the Children Indonesia termasuk bentuk nyata sebuah komitmen dalam mengurangi AKB di Indonesia. Kampanye "Race for Survival 2015" juga merupakan bagian dari kampanye global yang diikuti oleh lebih dari 60 negara di dunia.

"Siswa SD yang diajak untuk ikut menyuarakan harapannya kami anggap mewakili anak-anak usia di bawah 15 tahun. Sebagai simbol kalau anak juga berhak bersuara," ucap Direktur Kampanye dan Advokasi Save the Children Indonesia Tatak Ujiyati.

Nantinya, jelas dia, suara dari 2.800 anak dari 56 sekolah di Jakarta Utara dan 13 sekolah di Aceh itu akan dijadikan sebuah buku dan diberikan kepada Presiden Joko Widodo untuk dibawa ke New York dalam pembasan Sustainable Development Goals (SDGs).

Sementara itu, Ketua Yayasan Save the Children Indonesia Selina Patta Sumbung memaparkan data yang dihimpun oleh pihaknya. Disebutkan ada 200 anak meninggal setiap hari atau sama dengan setiap 7 menit ada satu bayi meninggal di Indonesia.

"Benar-benar memprihatinkan apabila angka kematian bayi tidak bisa turun dalam kurun 15 tahun mendatang. Bukan hanya itu, kekurangan nutrisi dan kurangnya kesadaran masyarakat akan pola hidup sehat juga perlu ditingkatkan," tandasnya. (Q-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya